Curatorial Notes / From the Gallery / Participant / Photos
NO NAME
18 Dec, 2004 - 31 Dec, 2004
Pengantar Galeri
Selalu saja muncul pertanyaan setiap kali ada kegiatan seputar urusan perempuan, tidak terkecuali pada kegiatan pameran ini. Demikian anehkah jika beberapa perempuan bersama sama mengadakan satu perhelatan dengan label Pameran ? apakah praktik senirupa perempuan memang perlu dimaknai sebagai sesuatu yang lain ? , sesuatu yang selalu dihubungkan dengan femininitas dan maskulinitas, gender, atau bahkan dianggap mengusik keberadaan kaum pria dalam konteks sebuah keberadaan ?
Sejatinya pameran ini berangkat dari gagasan awal yang sangat sederhana. Kalau selama ini kita sudah teramat sering menikmati kegiatan para perupa pria dalam pameran pameran bersama, eh barangkali ada sesuatu yang menarik bila para perempuan bersatu dan mengaktualisasikan eksistensinya sebagai perupa dalam suatu pameran bersama. Dan benar juga ternyata mengekspose perempuan dimana mana selalu saja mampu mengusik banyak hal menarik . Simak saja kuratorial Wahyudin dalam pameran ini . Ternyata ada banyak landasan pemikiran diseputar praktik senirupa perempuan yang sebelumnya tidak pernah kita fikirkan, saya kira Wahyudin dengan cukup menawan berusaha mendedahkan proses kreatif senirupa perempuan perupa Indonesia kedalam apa yang disebut “ Typology of women’s art making” ,yaitu sebuah penjabaran teoritis tentang hubungan spesifik antara strategi politik dan aksi kreatif para perempuan perupa barat pada dasa warsa 1970 an. Sedang Farah Wardani mewakili pendapat perempuan sebagai pendamping kurator , mengaku masih terjebak dalam posisi ambiguitas menyikapi pertanyaan “apa artinya menjadi perempuan” yang sengaja dilemparkan menjadi tawaran mendasar pada pameran ini. Istilah Farah adalah sesuatu yang dikenal sebagai “ perempuan” , atau perempuan yang menjadi “sesuatu” seperti pada judul tulisannya , atau menurut pendapat saya “ sesuatu “ yang tak perlu dimaknai , sehingga tak perlu punya nama ( no name) . “No name” inilah yang kemudian menjadi judul pameran ini .
Apakah benar para perupa muda berbakat dari Jakarta ( Francy Vidriani) , Bandung ( Rini Maulina dan Tennessee Caroline ) dan Jogyakarta ( Lashita Situmorang, Lelyana, Lia Mareza dan Dwi Kartika Rahayu) dalam menyatakan keberadaannya sebagai perupa perempuan lebih menyiratkan sekaligus meneguhkan keperempuanan mereka atau sebaliknya hanya menjadi sesuatu yang tak bernama dan tak bermakna khusus. Tetapi tentu saja kita semua berharap bahwa pameran ini dapat menyuguhkan sesuatu dan menawarkan proses pencarian makna khusus tersebut bagi apresian.
Terima kasih dihaturkan kepada Wahyudin, kurator ,Farah Wardani pendamping kurator, dan para perupa yang begitu serius berpartisipasi dalam pameran ini . Selamat berapresiasi .
Semarang 18 Desember 2004
Chris Dharmawan
From the Gallery
Events involving women seem to be ever intriguing, and this exhibition is not an exception. Is it so curious to find some women running a project together, a group exhibition in this case? Do women's art practices need to be interpreted as referring to something else? Do their art practices have to be always associated with femininity and masculinity, gender, or even with disrupting men's position in a given setting?
Actually, this exhibition sets out with a very simple idea. So often have we been presented with group exhibitions by male artists, so let's see what interesting things will come up when women get together to express their existence as artists by having a group exhibition. And it's true, exposing women unfailingly stirs up many interesting things. Just read the curatorial notes prepared by Wahyudin for this exhibition. A lot of premises are there around women's art practices. I find Wahyudin eloquent enough in his observation of Indonesian women artists' creative processes in connection with the so-called "typology of women's art-making", which is a theoretical account of the specific relationships between political strategies and creative actions of women artists in the West in the 1970s. Representing women's opinions, Farah Wardani says she remains with her ambiguous position concerning the question of "what does being a woman mean?" that is offered as the basic idea for this exhibition. She questions what we have here: do we deal with something commonly known as "women" or with women that become "something"? I don't think naming is always necessary and so "No Name" becomes the title of this exhibition.
Is it true that these talented young women artists from Jakarta (Francy Vidriani), Bandung (Rini Maulina and Tennessee Caroline) and Yogyakarta (Lashita Situmorang, Lelyana, Lia Mareza and Dwi Kartika Rahayu) in manifesting themselves as women artists assert their women-ness? Or, will they be just nameless and without any particular signification?
We hope, however, that this exhibition could present something for appreciation and offer to the audience the process of searching some particular signification.
I thank Wahyudin the curator, Farah Wardani, and all the artists most sincerely taking part in this exhibition.
Semarang December 18th 2004
Chris Dharmawan
