News detail for : Raut Wajah yang Bercerita
April 17, 2010
06 April 2010
Raut Wajah yang Bercerita
* Oleh Garna Raditya
ADA ratusan wajah, dengan pose berbeda. Mereka diabadikan dalam ingatan, namun sering terhilang karena masa. Sosok-sosok itu membawa Erik Pauhrizi ke dalam suatu memorabilia untuk tetap mengingatnya.
Dengan karya lukis berupa ratusan sosok itulah, menjadi ruang untuk mengekspresikan diri dengan berbagai cerita.
Puluhan karya Erik itu dipamerkan pada pameran tunggalnya “Indistinct Names” di Semarang Contemporarty Art Gallery, Jalan Srigunting, Semarang, Sabtu (3/4) dengan kurator Heru Hikayat. Ini menjadi kali kedua pameran tunggalnya digelar yang sebelumnya pada 2008 di Rumah Seni Yaitu.
Saat ini, Erik sedang mengambil cuti kuliah pada studi masternya di Braunscweigh, Jerman dan dari wajah-wajah koleganya di negara itu, ia gunakan untuk merangkai identitas citra baru yang terdistorsi tersebut. Di karyanya “Fictitious Biography” dengan liarnya ia coret-moret muka teman-temannya. Ciri khas efek hapusan masih tetap ia jaga pada rangkaian karyanya “Friction-Photobooth” dan pada “Le Frotter” yang memberanikan diri mengemas dengan olahan gambar invert.
Keindahan
Tampaknya itu adalah upaya Erik mengarungi belantara keindahan tubuh manusia, wajah-wajah yang ia peroleh adalah teman serumah, teman kuliahnya, dari temannya teman dan wajah-wajah itu kian menjadi anonim saat Erik meleburkan menjadi karya. Efek hapusan yang diusungnya terlihat lentur dengan kabur dan tak seakurat citra aslinya.
Ada pula teknik barunya yang dipergunakan Erik melalui pixelate pada “Raus Aus der Haut” yang semakin samar, citra sosok seorang anonim itu makin mendistorsi. Dengan rekayasa digitalnya itu, keindahan manusia bagi Erik diredefinisi untuk menghindari keajegan sosok manusia.
“Sosok-sosok tersebut adalahi identitas untuk menyimpan cerita karena di Jerman pengertian teman hanya merujuk pada aktivitas sehari-hari bukan secara personal. Karena semakin lama yang teringat hanyalah wajah, dan nama menjadi menghilang,” ujarnya.
Menurutnya, wajah menjadi suatu signifikan untuk menyimpan cerita.”Ketika nama hilang, wajah jadi tak ada artinya maka biarkan raut wajah yang bercerita”, jelasnya.
Galeri Semarang News Archives : 1 2 3 next »