News detail for : Meringankan Beban Nietzsche
March 26, 2010
Ada perupa yang mengusung potret Nietzsche, tapi yang lain secara bebas bicara tentang manusia.
Bagaimana perupa menerjemahkan tema berat tentang "aku" versi filsuf Nietzsche? Dosen seni rupa Institut Teknologi Bandung, Aminudin T.H. "Ucok" Siregar, berupaya mencairkan tema berat itu dengan teknik cat air di atas kertas dalam potret diri Nietzsche. Sosok lelaki tinggi tegap berkumis tebal dengan pedang di tangan itu berdiri tegap di antara bahtera besar, dua ekor hiu dengan latar belakang samudra putih. Di salah satu sudut terdapat tulisan "Filsuf yang menjadi tentara" yang dicetak miring.
Cara perupa memvisualkan "aku" ini dipamerkan di Semarang Contemporary Art Gallery, yang dikurasikan oleh Heru Hikayat, pada 1-10 Maret 2010. Pameran bertajuk "Ecce Homo"--dalam bahasa latin berarti "Lihatlah Manusia"--bergemuruh dengan semangat filsafat Nietzsche. Menurut Chris Dharmawan, pemilik galeri, berbicara tentang Nietzsche tak lepas dari "aku". "Pertanyaan soal 'aku' menjadi sangat menarik ketika dipakai sebagai dasar ide proyek pameran ini," kata Chris saat membuka pameran.
Selain menampilkan karya Aminudin, Heru memboyong karya 12 perupa dan satu kelompok perupa. Bagi Aminudin, hiu dalam karya bertajuk Mengapa Aku Adalah Takdir? merupakan metafora monster agresor, simbol predator. "Hiu seperti monster yang menjadi mimpi buruk manusia," katanya. Samudra lambang sesuatu yang tak berujung dan tak pernah lelah bergemuruh.
Potret filsuf itu juga yang dipakai perupa Roumy Handayani Pesona dengan berbagai mimik dan kumis tebal, alis tebal, mata menyalang dalam gaya ekspresif ala Vincent van Gogh. Bahkan kelompok Byar Creative Industry (Semarang) menampilkan foto Nietzsche.
Terjemahan lebih bebas teks "aku" versi Nietzsche tanpa repot menunjukkan kemunculan sosok Nietzsche pada karya lain. Perupa Diyanto menampilkan karya lukis berupa sosok lelaki tanpa baju diam tak berdaya melihat gerombolan manusia yang saling memangsa di sekitarnya.
Laksmi Sitharesmi dengan patung perunggu berjudul Balanching Pig berupa sosok babi bak pemain akrobat bertumpu pada dua kakinya, Abdi Setiawan dengan patung kayu figur gadis sedang melahap es lilin, Sigit Santoso mengambil sosok martir kristiani St. Sebastian berupa tubuh lelaki telanjang dengan kuas menghunjam tubuhnya.
Sedangkan Gusbarlian menampilkan patung resin berupa topi putih bertekstur dalam bentuk dan susunan teratur berhiasan tanduk berbentuk cabang pohon. Agus Suwage dengan kebeningan cat air melunakkan tengkorak manusia. "Karya yang tercipta diharapkan bisa menjawab tentang persoalan mendasar kehidupan sang seniman: bagaimana si seniman menjalani hidup," ujar Heru Hikayat. Tanpa dibebani sosok berat filsuf Nietzsche, pameran ini sama ringannya dengan pameran lain yang berkisah tentang manusia. ROFIUDDIN | RFX
Sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2010/03/04/Berita_Utama-Jateng/krn.20100304.192748.id.html
Galeri Semarang News Archives : 1 2 3 next »