News detail for : Menafsir Ulang Tragedi Nietzsche
March 4, 2010
03 Maret 2010
ECCE homo dalam bahasa Latin berarti “lihatlah manusia”, yang diasumsikan pada pemahaman teori filsafat tentang hakikat menjadi manusia dan menurut Nietzsche kesemuanya berpusat pada “aku”.
Dasar keakuan itu menjadi landasan para seniman yang berpameran di Galeri Semarang, Jl Taman Srigunting 5, Kota Lama, mulai Senin (1/3) malam.
Karya yang dibuat oleh Nietzsche pada 1889 itu menjadi tajuk pameran dan teori filsafat Ecce Homo dipakai sebagai cara bertanya dalam kehidupan manusia yang sarat dalam kesedihan dan kebahagiaan.
Namun, Nietzsche lebih banyak dihinggapi oleh kemuraman yang menjadikan ia menulis banyak tentang “manusia yang melampaui manusia” yang diserukan pada konsep ubermensch dalam karyanya “Zarathustra”.
Para seniman menyatakan keakuan nya dengan medium melalui lukisan, patung, instalasi, video, hingga musik yang menjadi tanda-tanda pemikiran manusia.
Seperti pada karya Agus Suwage “The Beginning” dan “The End” yang menyajikan tentang kematian dengan lukisan tengkorak dengan cat air yang menyiratkan proses manusia dalam tragedi yang diawali pada tempurung kepala hingga berwujud pada kerangka tengkorak yang tergeletak tak berdaya.
Kelam
Karya Roumy Handayani Pesona pun serupa. Pada “Timelessness & Reality of Fate” dan “The Absolute Being” dilukiskan potret diri Nietzsche yang misterius, seperti pada goresan yang dihasilkan Roumy yang terkesan kelam.
Kelompok anak muda, Byar Creative Industry, melepaskan figur Nietzsche yang nestapa tersebut dengan memilih menelusuri manusia dalam sisi historis kotanya. Mereka menyajikan beragam medium yang merepresentasikan Semarang masa lalu, masa kini dan akan datang.
Menurut kurator pameran, Heru Hikayat, Nietzsche menekankan keyakinan manusia tidak dapat berpaling dari dirinya dan dunia.
“Ia menekankan kepercayaan pada dogma agama serta negara yang membuat manusia lupa dan lalai menjalani hidup.” ujarnya. (Garna Raditya-87)
Galeri Semarang News Archives : 1 2 3 next »