Galeri Semarang News

News detail for : Ketika Perupa Mendefinisikan "Aku"

March 4, 2010
Rabu, 3 Maret 2010 | 15:30 WIB

"Siapakah aku? Apa hakikat menjadi manusia? Bagaimana aku menjalani hidup?" Pertanyaan-pertanyaan mendasar itu membuat manusia memahami dunia, kenyataan, dan dirinya sendiri. Lewat karya seni berupa lukisan, para perupa dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Semarang mencoba menjawabnya.

Jawaban dari hal-hal mendasar itu dituangkan 15 perupa dari empat daerah tersebut lewat karya yang ditampilkan pada pameran bertajuk "Ecce Homo" di Galeri Semarang, Kota Semarang. Pameran berlangsung 1-10 Maret 2010.

Ecce Homo ("lihatlah manusia") merupakan kata bahasa Latin dan merupakan hal yang sangat mendasar dari teori filsafat Nietzsche. Menurut Nietzsche, persoalan mendasar tentang diri sendiri, hakikat manusia dan bagaimana manusia menjalani hidupnya, berpusat pada "aku."

Hal-hal mendasar itulah, kata kurator Heru Hikayat, memberi pertanyaan kepada perupa untuk menjawabnya dalam sebentuk karya. Pendefinisian tentang "aku" atau individualitas ini terkait erat dengan latar belakang seseorang dan lingkungannya.

Seperti instalasi karya Nurdian Ichsan dengan patung manusia di tengah batu-bata yang disusun beraturan yang menggambarkan bahwa manusia tak terlepas dari ruang. Ruang itulah yang membentuk eksistensi seorang manusia.

Ada pula lukisan berjudul Nicht Fish Nicht Fleish (bukan ikan bukan daging) karya Diyanto, memperlihatkan manusia yang saling memakan atau kanibalisme. Karya itu ingin menunjukkan bahwa kini manusia tidak lagi mampu membedakan siapa sesamanya.

Byar Creative Industry, komunitas anak-anak muda di Kota Semarang, ikut mendefinisikan "aku" melalui dunia urban di Kota Semarang. Mereka membuat instalasi musik bising yang dilengkapi dengan visual kondisi perkotaan di Semarang.

"Kami ingin menciptakan nihilisme untuk menyamankan diri sendiri. Kota ini sudah terlalu bising, tapi lama-kelamaan manusia akan merasa sejuk juga karena terbiasa dengan kebisingan itu," ujar Garna Raditya dari Byar Creative Industry.

Perupa Atie Krisna lain lagi. Ia menggambarkan pantat ceret (teko) yang rusak dalam lukisannya. Ceret merupakan refleksi dari kondisi bumi yang kini rusak karena ulah manusia.

"Ceret yang selalu digunakan namun tidak dirawat, lama-kelamaan akan rusak," kata Atie.

Bagi Nietzsche, hanya kita yang dapat mendefinisikan "aku". Pameran "lihatlah manusia" setidaknya mengajak kita melihat diri sendiri.... (amanda putri)

 

Galeri Semarang News Archives : 1  2  3  next »


busby seo challenge