News detail for : Pertanyaan tentang "Aku" yang Tak Pernah Usai
March 3, 2010
Wed 03 Mar 2010
SESOSOK lelaki tinggi tegap berkumis tebal serta membawa pedang berdiri tegap di antara bahtera besar dan dua ekor hiu dengan latar belakang samudra putih. Di salah satu sudut, ada tulisan miring: filsuf yang menjadi tentara.
Begitulah. Lukisan dengan tampilan sosok Nietzsche berjudul: Mengapa Aku adalah Takdir? itu merupakan salah satu karya Aminudin TH "Ucok" Siregar dalam pameran seni rupa Ecce Homo di Galeri Semarang. Selain itu, sang pelukis juga menampilkan lukisan: Mengapa Aku Demikian Cerdas? serta sebuah instalasi perahu bertajuk: E.H. Boat.
Mengapa hiu dan samudra? Aminudin berujar, hiu merupakan metafor monster yang agresif. Simbol predator. "Hiu seolah seperti monster yang menjadi mimpi buruk manusia," katanya.
Sedangkan samudra, katanya, melambangkan sesuatu yang tak tahu: ke depan akan tiba di pengujung mana. Dan, tak pernah lelah bergemuruh. "Seperti itu juga manusia semestinya. Ada dalam dirinya sendiri," kata perupa kelahiran Jakarta, 29 Juli 1973 ini.
Guratan Aminudin merupakan bagian dari sekumpulan perupa yang mencoba merespons tema yang disuguhkan penyelenggara pameran. Pameran mengusung tema pemikiran filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche, tentang wacana Ecce Homo. Ecce Homo, seperti dikutip dalam katalog pameran, dalam bahasa Latin berarti: Lihatlah Manusia. Hal yang sangat mendasar dalam filsafat Nietzsche.
Apakah itu persoalan mendasar tentang diri kita, atau bagaimana kita menjalani hidup ini, bahkan apa sebenarnya hakikat manusia? Menurut Nietzsche, semua sebenarnya berpusat pada "aku". "Dan, pertanyaan soal aku menjadi sangat menarik ketika dipakai sebagai dasar ide proyek pameran ini. Perihal pencarian tentang keakuan seperti juga dalam karya," kata Chris Dharmawan, pemilik Galeri Semarang saat membuka pameran, Senin (1/3) malam.
Selain Aminudin, pameran juga menampilkan puluhan karya seniman dari beberapa daerah. Mereka yang turut ambil bagian yakni: Iswanto Hartono, (Jakarta), Amrizal Salayan, Diyanto, Gusbarlian, Nurdian Ichsan, Roumy Handayani Pesona (Bandung), Abdi Setiawan, Agus Suwage, Galam Zulkifli, Laksmi Sitharesmi, Sigit Santosa, Sugiyo Dwiarso (Yogyakarta), dan Atie Krisna serta Kelompok Byar Creative Industry (Semarang). Pameran berlangsung 1-10 Maret 2010.
Beberapa perupa tampak cukup atraktif dalam memakna "lihatlah aku" dalam pameran kali ini. Roumy menyuguhkan lukisan-lukisan wajah Nietzsche dengan menonjolkan kumis tebalnya. Laksmi dengan patung Balanching Pig-nya. Sedangkan Diyanto menyuguhkan lukisan Bukan Ikan Bukan Daging, Abdi Setiawan dengan patung Es Lilin, dan Atie Krisna dengan lukisan Damn You dan In Between yang bercirikan teko dalam karyanya.
Kurator Pameran Heru Hikayat menyatakan, Nietzsche amat menekankan keyakinan bahwa manusia tidak dapat berpaling dari dirinya dan dunia. Hingga ia menekankan kepercayaan pada dogma agama dan negara sehingga membuat manusia lupa dan lalai menjalani hidup. Nietzsche punya perumpamaan yang impresif: manusia yang mengonfirmasi hidup adalah manusia yang berani mengarungi lautan dengan sampan kecil dan membakar dermaga di belakangnya hingga tak ada sama sekali cara baginya untuk kembali ke daratan. "Hidup ini adalah lautan yang penuh marabahaya, karena itu harus dihadapi dengan penuh keberanian. Kenyamanan daratan adalah buaian yang membuat manusia berpaling dari hidup," kata Heru.
Dalam prinsip Nietzsche, lanjut Heru, sebenarnya salah jika dikatakan "hidup kita". Karena tiap orang harus menjalani hidupnya masing-masing. Ini soal aku menjalani hidupku, kau jalani hidupmu; hidupku-hidupku, hidupmu-hidupmu. Para seniman dalam menafsir ide pameran ini, lanjut Heru, bukanlah berkarya dengan merespons teori filsafat Nietzsche sebagai model. Akan tetapi teori filsafat Ecce Homo Nietzsche dipakai sebagai cara bertanya. n Heri C Santoso
Galeri Semarang News Archives : 1 2 3 next »