Galeri Semarang News

News detail for : Seni dari Dua Kota

February 5, 2010

Selasa, 2 Februari 2010 | 11:38 WIB

Kreativitas dalam seni rupa dan lukis tumbuh subur di Yogyakarta dan Bandung. Seniman muda dari kedua kota itu pun bergabung dan memamerkan karya mereka di Semarang. Bukan untuk mencari yang terbaik, tetapi untuk menggali kreativitas jauh lebih dalam.

 

Sebanyak 19 seniman muda menggelar pameran "Dua Kota, Dua Cerita" di Semarang Gallery pada 30 Januari-10 Februari 2010. Jenis karya yang dipamerkan tidak hanya lukisan, tetapi juga patung dan instalasi.

Kurator pameran, Aulia Swastika, tidak bermaksud mengadu para seniman muda itu. Pameran itu juga tidak diadakan untuk mengkotak-kotakkan karakteristik seni dari kedua kota itu. "Pameran ini untuk menampilkan keragaman seni yang ada," kata Alia, Sabtu (30/1), di Semarang.

Yogyakarta dan Bandung dikenal memiliki gaya estetika yang berbeda dalam hal seni. Perdebatan ini semakin "memanas" setelah kritikus seni, Adi Wicaksono, menulis sebuah artikel di Harian Kompas pada 11 Januari 2009 berjudul "Yang Keren dan Terkendali".

Dalam artikel itu, Adi mencoba menampilkan kecenderungan seniman yang ada di dua kota. Adi menilai bahwa seniman Yogyakarta terbungkuk-bungkuk memanggul beban estetik tertentu. Bahkan dengan lugasnya, Adi menyebut seniman Yogyakarta memiliki minat baca yang rendah.

Sementara seniman Bandung lebih rileks dan tidak menanggung beban seperti itu. Minat baca mereka pun lebih tinggi. Tentu saja, pendapat seperti itu mendapat perlawanan dari para seniman Yogyakarta. Kubu Yogyakarta dan Bandung pun memanas.

Untuk memanggungkan kedua kubu ini, Alia sengaja memilih para seniman muda yang berkarya di seni kontemporer. Ada 9 seniman muda dari Yogyakarta dan 10 seniman dari Bandung.

Alia ingin memetakan kecenderungan seni yang terjadi di dua kota itu dalam sebuah pameran. Dengan bekerja sama seniman muda, Alia justru dapat menemukan kecenderungan seni baru yang belum pernah dilirik.

Meski ada wacana yang membedakan "warna" seni di kedua kota itu, karya yang dipamerkan justru tidak terlalu menonjolkan perbedaan itu. Gaya berkesenian seniman Yogyakarta dan Bandung banyak memiliki kesamaan. Bahkan, budaya pop yang identik dengan Bandung sudah menjadi unsur dalam karya seniman Yogyakarta.

Pameran itu pun tidak diadakan di Yogyakarta maupun di Bandung, melainkan di Semarang. Alia ingin mendapat suasana netral.

Pemilik Semarang Gallery, Chris Dharmawan, mengatakan, publik seni di Semarang beruntung dapat menjadi wasit dalam "pertandingan" dua kubu ini. Dengan demikian, perdebatan yang terjadi tentang dua kota ini bukan lagi merupakan permainan asumsi dan pendapat pribadi. (Herpin Dewanto)

 

Galeri Semarang News Archives : 1  2  3  next »


busby seo challenge