News detail for : Kecantikan dalam Robekan Tantin
February 5, 2010
18 Januari 2010
poster iklan pencitraan itu begitu sempurna. Namun, kecantikan dari para perempuan di dalamnya cenderung superfisial. Rambut lurus, kulit putih, dan wajah molek nan menawan. Di suatu ketika saat poster iklan tersebut ditempelkan, saling berebut untuk mendapatkan ruang. Sobek menyobek dan saling tumpang tindih untuk berebut lahan tembok.

Sampah visual yang terlihat di tembok-tembok kota yang kumuh itu, menjadi inspirasi bagi I Gusti Ngurah Udiantara atau akrab dipanggil Tantin dalam karya-karyanya pada pameran tunggal Pop Imagery di Semarang Contempory Art Gallery, Jalan Taman Srigunting 5-6 Semarang, Sabtu (16/1).
Andy Warhol di dekade 60-an mempopulerkan wajah Marilyn Monroe, itu merupakan era kemunculan Pop Art, yang saat itu menjadi tandingan terhadap modernisme dalam seni. Para post modernis pun mengkajinya bahwa kebudayaan pop di eranya termaktub dalam seni rupa kontemporer. Tantin pun demikian, melalui wajah Monroe itu divisualkan berupa sobekan-sobekan dan didekonstruksi seperti pada poster iklan di jalanan.
Kontra Kritik Menurutnya, bahwa di era sekarang adalah kelanjutan perayaan dari kontra kritik kebudayaan pop tersebut. ”Kita ini adalah produk dari Industri. Perempuan yang teragitasi oleh produk tersebut merupakan wajah global dari konsumsi masyarakat dengan turut membelinya. Jika citra itu terus-terusan mengelabuhi masyarakat, kenapa tidak dirangkai dan menjadi makna baru,” tuturnya.
Seperti misalnya pada ”Curse of Beauty”, seorang perempuan diproyeksikan dalam nuansa hitam dan putih dengan sisa serpihan sobekan kertas namun berwarna. Dalam ”Face History” dia menampilkan wajah berupa kolase dua sobekan kertas dari mulut dan wajah berbeda menjadi kesatuan, menyiratkan fase kesempurnaan yang terjadi secara bertahap.
Dia melihat bahwa wujud dari sobekan itu justru menampilkan makna dan citra baru. Merek produk yang telah tertutup dan disobek, meninggalkan proyeksi sang model seperti pada wajah bintang Salma Hayek dan Megan Fox yang sensual, ikon perempuan itu sebagai representasi wajah dalam kesempurnaan.
Tak sekedar mempertanyakan soal kecantikan dalam kenyataan. Tantin tak berusaha terjebak dalam seni urban di jalanan melalui stensil, postering, maupun mural. Hal itu tak terlihat dalam teknik penyajiannya karena dari medium cat akrilik di kanvasnya, robekan dan rematan kertas itu justru terasa pesona sang perempuan. (56)
Galeri Semarang News Archives : 1 2 3 next »