News detail for : Kecantikan adalah Kutukan di Era Globalisasi
March 3, 2010
Senin, 18 Januari 2010 | 11:29 WIB
Hampir semua perempuan melakukan apa saja agar terlihat cantik karena cantik adalah anugerah. Namun, pelukis I Gusti Ngurah Udiantara justru ingin menunjukkan bahwa kecantikan sering kali membawa kegelisahan. Kecantikan menjadi korban perkembangan industri dan teknologi informasi.
I Gusti Ngurah Udiantara atau Tantin menggambarkan kritikan tersebut dalam lukisan bergaya pop art. Lebih 10 lukisan yang dibuat dengan cat akrilik tersebut dipamerkan dalam "Pop Imagery" di Semarang Gallery, Kota Semarang, 16-26 Januari 2010. Salah satu karya Tantin berjudul "Curse of Beauty" atau kutukan kecantikan. Dalam lukisan tersebut tampak seorang perempuan muda memandang ke atas. Di dadanya tergurat tulisan yang berbunyi "mengapa engkau mengutukku dengan kecantikan?" "Di zaman sekarang ini, seseorang dengan paras cantik akan terus dieksploitasi, muncul di mana-mana," kata Tantin, Sabtu (16/1) malam. Tantin mendapati para pemilik wajah cantik itu tampak tidak nyaman. Mereka "diperbudak" oleh industri dan menjadi alat promosi nomor satu. Itulah sebabnya, untuk menyuarakan kritiknya, Tantin menampilkan sosok perempuan dalam semua karya yang dipamerkan. Padahal, perempuan sebagai obyek seni bukan menjadi kewajiban dalam aliran seni yang dirintis seniman Amerika, Andy Warhol, pada tahun 1960-an ini. Tantin menampilkan wajah perempuan dalam karyanya tidak dalam bentuk utuh. Hampir di semua karyanya, wajah perempuan tersebut terangkai oleh potongan kertas. Sepintas, wajah-wajah itu bagaikan sebuah poster yang sudah kusam dan tidak utuh lagi. Sobekan-sobekan poster dalam karya Tantin dibuat untuk memperjelas kritik yang ingin disampaikan. Tantin memulai pengerjaan karya-karyanya setelah melihat tembok di salah satu sudut Kota Yogyakarta yang penuh dengan poster-poster iklan yang ditempel tak beraturan. Poster iklan yang dilihatnya itu saling tumpang tindih dan sudah sobek. Pesan yang ingin disampaikan poster itu pun sudah tidak jelas lagi dan akhirnya poster itu hanya menjadi sampah. "Wajah model iklan yang cantik dalam poster itu tidak lagi dapat dinikmati," kata Tantin. Kecantikan yang sudah dieksploitasi itu pun akan hilang sia-sia. Kurator pameran Jim Supangkat mengatakan, Tantin mengangkat budaya pop sekaligus tanda-tandanya, yaitu globalisasi ekonomi. Dalam karyanya, Tantin menyadari kecantikan perempuan dalam dunia nyata berbeda dengan kecantikan di dunia iklan dan majalah gaya hidup. "Kecantikan yang ada di dunia iklan tidak punya pesona yang humanis," kata Jim. (Herpin Dewanto)
Galeri Semarang News Archives : 1 2 3 next »