News detail for : POCARI SWEAT DI ATAS KANVAS
November 14, 2009
Koran Tempo, 12 November 2009
Perupa Ketut Moniarta mengeksplorasi elemen estetik teknik realisme fotografis.
Kepopuleran Pocari Sweat mendorong Ketut Moniarta menjadikan minuman yang diiklankan mampu mencegah dehidrasi dan menggantikan ion-ion tubuh yang hilang sebagai subject matter pada karya lukisnya. Pada pemeran tunggal bertajuk “Post Branded Object” di Semarang Gallery, 7-21 November 2009, lulusan Institut Seni Indonesia Denpasar ini menyajikan berbagai imaji Pocari Sweat dalam berbagai bentuk.
Pada karya Self Portrait dan Portrait of Chuck Close, kanvas Moniarta dipenuhi serpihan kaleng Pocari Sweat dan serpihan kaleng minuman ringan lainnya menyerupai sosok
wajah. Hal serupa dijumpai pada karya Skull. Serpihan kaleng membentuk citra menyerupai tengkorak kepala manusia. Bedanya, dua lukisan sebelumnya berlatar kemilaunya aluminium, sedangkan Skull berlatar hitam.
Moniarta, 28 tahun, yang aktif di kelompok seni Taxu, juga menggunakan teknik realisme fotografis dalam beberapa karyanya. Gaya realisme fotografis merupakan ciri khas kelompok ini. Melalui teknik ini, Moniarta mengabadikan citra Pocari Sweat dengan kamera digital. Hasil jepretan ditransfer ke lembaran kanvas. Hasilnya, imaji baru melalui serpihan kaleng yang ditangkap lensa kamera secara focus atau out of focus. Lihatlah karya Snow Blues. Serpihan dan kilatan aluminium menghadirkan imaji layaknya gumpalan salju. Atau pada karya River Dream (previous page), gugusan serpihan
botol aluminium dan efek cahaya yang dipantulkan dari lantai dan lembaran koran menghadirkan ilusi seolah sesuatu terbawa arus sungai. Dari 15 karyanya yang semua bertarikh 2009, ada dua karya tiga dimensi, yakni Poca de la Cruz dan Sole Cruz. Pada dua karya itu, sang perupa menyajikan imaji kaleng Pocari Sweat layaknya lembaran kain
yang kusut melalui paduan media kanvas dan resin.
Menjadikan produk makanan atau minuman sebagai tema gagasan seni rupa bukanlah hal baru. Sebelumnya, perupa Amerika, Andy Warhol, menjadikan Coca-Cola dan McDonald’s sebagai sumber gagasan karyanya pada 1960. Bedanya, Warhol menjadikan Coca-Cola dan McDonald’s sebagai kritik atas praktek seni rupa modern Amerika serta
dominasi budaya pop Amerika. Tapi pada karya Moniarta, tak ada alasan ideologis saat menjadikan Pocari Sweat sebagai subject matter. Kecuali ingin menetralkan ikon Pocari
Sweat sebagai identitas karya serta pertimbangan estetis dengan mengeksplorasi citra fotografis. Pada karya Moniarta juga tak ditemukan elemen komentar sosial sebagaimana
karya realisme fotografis Dede Eri Supriya, yang pernah popular pada 1980-an.
Dalam catatan kuratorialnya, Rifky Effendy menyebut apa yang dilakukan Moniarta sebagai keberhasilan seorang perupa yang menggunakan ikon produk konsumer dalam
karyanya. Tapi tanpa harus membicarakan makna produk itu atau mencoba kritis terhadap budaya masyarakat saat ini. SOHIRIN
Galeri Semarang News Archives : 1 2 3 next »