News detail for : Lelaki Takut Kehilangan Buku
September 16, 2011
TEMPO 08 AGUSTUS 2011
LELAKI itu seperti gambaran penyair tua Eropa yang muram tapi tampil keren. Kepalanya dilindungi topi bulat merah, dan mantel merah melindungi punggungnya. Sebuah selendang putih menggantung di leher dan kedua ujungnya menjuntai di depan badannya. Dia mendekap erat sebuah buku merah besar.
Lukisan Lelaki yang Takut Kehilangan Bukunya itu adalah karya perupa Yogyakarta, S. Teddy Darmawan. Itulah sosok penyair Goenawan Mohamad yang dibayangkan Teddy. Sebuah kritik sekaligus pujian akan kesetiaan Goenawan terhadap sastra. Sudah lama Teddy memulai lukisan itu, tepatnya pada 2006, tapi terhenti lama.
Ketika Wahyudin, kurator lulusan Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, menawarinya ikut serta dalam sebuah pameran seni rupa untuk merayakan ulang tahun Goenawan yang ke-70, Teddy teringat kembali pada lukisannya yang belum selesai itu. Saat itu Wahyudin menawarkan puisi Goenawan, Untuk Frida Kahlo, sebagai bahan inspirasi berkarya, "Tapi Teddy memilih memanfaatkan momentum ini merampungkan lukisannya," kata Wahyudin.
Pameran ini digelar di Galeri Semarang, Jalan Srigunting Nomor 5-6, Semarang, dengan tema “Membikinnya Abadi”, dan berlangsung dua pekan hingga Kamis pekan lalu. Untuk pameran ini, Wahyudin memang menyebarkan beberapa puisi Goenawan Mohamad, dari 1970-an hingga kini, untuk ditanggapi oleh para seniman, tapi seniman tetap diberi kebebasan memilih sendiri puisi yang diminatinya atau malah menafsir sosok Goenawan dalam bentuk lukisan potret, misalnya.
Selain Teddy, perupa yang turut dalam pameran ini di antaranya Putu Sutawijaya, Abdullah Ibnu Tholhah, Andre Tanama, Edo Pop, Farhan Siki, Haris Purnomo, Mella Jaarsma, Nasirun, Nindityo Adipurnomo, Putut Wahyu Widodo, Titarubi, dan Ugo Untoro. Para perupa menafsir berbagai ragam karya, dari lukisan, foto, patung, obyek, neon bor, hingga video seni.
Sebagian besar perupa, yang merupakan sahabat Goenawan, cenderung menafsir tiga puisi, yakni Gandari, Persetubuhan Kunthi, dan Menjelang Pembakaran Sita. Rupanya, perempuan dan pewayangan menjadi tema yang paling menarik hati seniman yang sebagian besar bermukim di Jawa Tengah ini.
Nasirun, misalnya, mengangkat puisi Gandari dengan suatu cara yang personal. Tak ada sosok Gandari dalam lukisan Pelukis yang Terpinggirkan itu. Di atas kanvas, ia menggambarkan siluet dirinya yang bersarung dari sisi kiri. Kuciran jenggotnya menjulur ke depan. Rambutnya digelung dan tangannya terikat ke belakang dengan sebuah tali yang menjuntai sampai pojok kanan atas bidang gambar. Di atas warna dasar kuning, dia cipratkan warna merah, yang membuat tubuhnya seakan-akan sedang terbakar. Di sisi kanannya tulisan “catatan pinggir” berwarna kuning keemasan berhamburan tak terhitung.
Perupa Haris Purnomo juga memilih sajak Gandari dan melukis sosok perempuan cantik berbadan mulus tanpa busana yang pasrah duduk sambil mencium dengkulnya. Di sekujur tangannya tampak tato dan di punggungnya menancap 12 anak panah. Di dekatnya tersandar topeng berwajah merah-seram.
Adapun Sigit Santoso memilih puisi Menjelang Pembakaran Sita untuk membuat lukisan Sita Sati. Dia menggambarkan Sita sebagai sosok tertelungkup dan bersandar ke sisi kanan. Tangan kanannya terkulai ke depan dan di belakang punggungnya menyala kobaran api, dan beberapa percikan api berjatuhan.
Perupa lain, Abdullah Ibnu Tholhah, melukis seorang perempuan yang sedang duduk di lembah dengan tubuh terbalut jilbab dan jubah hitam. Di sekelilingnya ada kera, kijang dan landak. Di depannya ada sosok laki-laki bersayap yang sedang terbang membawa matahari. Karya drawing dengan tinta berjudul Tak Ada Bidadari di Sidrah ini merupakan tafsiran atas sajak Persetubuhan Kunthi. Tholhah menyatakan puisi dan seni rupa merupakan dua gagasan yang saling melengkapi. “Gagasannya sama, tapi bisa dibuat dari sudut pandang yang berbeda,” kata dia.
Tapi puisi yang sama ditafsir lain oleh Putu Sutawijaya. Dia membuat patung dari besi-besi bekas yang karakternya mirip dengan patung-patung yang dipamerkannya dalam pameran Gesticulation di Jakarta awal tahun ini. Karya Temptation (Menggoda) itu berupa sesosok perempuan dalam posisi bersila dan tangan mengacungkan dua jari ke depan. Perempuan itu berada di tengah pusaran kawat-kawat besi, dan mengambang, karena hanya punggungnya yang menempel pada sebuah bidang berbentuk bulat yang dikelilingi roda besi.
Sedangkan Dadang Rukmana menautkan dua puisi Goenawan, Almanak dan Riwayat, dan melakukan apropriasi terhadap potret Goenawan karya Indra Leonardi. Dalam karya yang diberi judul Sorry Aku Tak Bisa Melihatmu Secara Utuh itu, Goenawan digambarkan sebagai sosok yang buram. Karya ini seolah-olah merupakan puisi Riwayat, yang isinya mengungkai kenisbian masa lalu. Petikannya:
Gelitikkan, musim, panasmu ke usiaku
bersama matari. Dari jauh
bumi tertidur oleh nafasmu, dan oleh daun
yang amat rimbun dan amat teduh
Dan seperti mimpi
laut kian perlahan
kian perlahan
Perupa Dipo Andy merespons puisi Goenawan Mohamad berjudul Aung San Suu Kyi dengan menelurkan obyek instalasi sebuah kotak yang ada coret-coretannya. Di atasnya ditulis “Democr Atos”. Adapun Angki Purbandono, yang selama ini dikenal sebagai fotografer, menyuguhkan karya kotak neon berjudul Puisi Seribu, yang berasal dari puisi Kwatrin tentang Sebuah Poci. Lampu di kotak berukuran 1 x 2 meter itu menyoroti gambar uang seribu rupiah lama, yang bergambar Kapitan Pattimura, yang sudah kucel dan dipenuhi berbagai coretan dan tanda tangan.
Angki rupanya mengganti obyek poci dengan uang lama. Bandingkan dengan puisi Goenawan ini:
Pada keramik tanpa nama itu
kulihat kembali wajahmu
mataku belum tolol, ternyata
untuk sesuatu yang tak ada
Apa yang berharga pada tanah liat ini
selain separuh ilusi?
sesuatu yang kelak retak
dan kita membikinnya abadi
Pameran yang dibuka Tanto Mendut, penggagas Festival Lima Gunung di Magelang ini semakin lengkap karena tak hanya menyajikan karya individual, tapi juga menyuguhkan karya kolaborasi para perupa kelompok Cibubur dan Hitam Manis. Hitam Manis mengubah bait pertama sajak Dongeng Sebelum Tidur ke dalam aksara Jawa dan menambahkan cicak raksasa dari besi yang sedang menggigit kembang. Unsur-unsur pada karya itu dipungut dari bait pertama puisinya:
“Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita.
Yaitu nonsens.”
Kelompok Cibubur, yang sebagian anggotanya eksponen kelompok Pipa Yogyakarta, membuat karya lukis sepanjang delapan meter yang diberi judul Gandari. Karya itu berupa delapan perempuan dalam berbagai ekspresi dan bentuk. Ada perempuan sedang telungkup dan bahunya ditancapi Sembilan anak panah. Ada sosok perempuan tua membopong keranjang berisi senjata api. Ada pula sosok perempuan seksi dengan rambut keriting panjang yang mirip tokoh komik Wonder Woman, tapi tubuhnya ditembusi tiga tombak. Di bawahnya ada bungkus minuman berwarna biru yang bertulisan “Gandari”. Di sisi kiri ada juga sosok perempuan yang duduk dengan kepala terpotong.
Perupa Nyoman Darya membuat karya lukis sosok Goenawan yang berambut kribo berwarna putih yang sedang santai di bak mandi penuh busa. Di ujung bak mandi ada kaki seorang perempuan. Sosok Goenawan digambarkan dengan kumis dan jenggot berwarna putih. Di mulutnya terselip cerutu berwarna cokelat. Ia sedang santai menerawang dengan kedua tangan berada di belakang kepala.
Pada malam pembukaan pameran, Goenawan, yang mengenakan baju dan celana hitam, tampak sumringah. Meski umurnya sudah berkepala tujuh, lelaki asli Batang itu tampak masih lincah dan mondar-mandir melihat berbagai karya yang dipajang. Dalam kata sambutannya, ia merasa terharu mendapatkan hadiah ulang tahun semacam ini, yang menurut dia paling special selama hidupnya. “Usia bukanlah prestasi, tapi yang harus dicapai adalah karya,” katanya.
Tanto, yang didaulat membuka acara, menyatakan acara yang memindahkan puisi Goenawan ke dunia seni rupa ini sangat luar biasa. Menurut dia, sementara penyair Rendra dijuluki “kupu-kupu yang terbang bagai merak” dan Pramoedya Ananta Toer dijuluki “ulat bulu yang bikin gatal kekuasaan”, Goenawan layak dijuluki sebagai “kepompong”. “Goenawan ini penting bagi Indonesia karena sebagai orang yang prihatin seperti kepompong, yang hanya menggerakkan kepalanya,” kata dia.
Acara itu ditutup dengan penampilan Slamet Gundono dan kelompoknya dengan sajian musikalisasi dua puisi karya Goenawan, Penangkapan Sukro dan Kwatrin tentang Sebuah Poci. Goenawan, yang tampak gembira, langsung memotret aksi Slamet dengan kamera di telepon pintarnya. Klik! Dan dia langsung mengunggahnya ke akun Twitternya.
Rofiuddin Kurniawan
Galeri Semarang News Archives : 1 2 3 next »