Curatorial Notes

Curatorial Notes / From the Gallery / Artist Bio / List of works / Photos


KUTAK-KUTIK KELAPA

15 May, 2008 - 25 May, 2008

Tentang Buah Kelapa

Kenapa Kelapa?

Pelukis Rinaldi dikenal dengan lukisan-lukisan buah kelapanya. Berbagai gubahan buah kelapa dibuatnya dengan logika fotografis dan kemudian diolah komposisinya dengan rekayasa dijital, kemudian dipindahkannya ke atas sebuah kanvas secara realistik. Ada yang diulangnya , seperti di salin dan dipindahkan terus menerus menjadi berirama (copy paste). Ada bagian diperbesar dan diperjelas, ada bagian yang hanya menjadi latar agak kabur. Ada yang dikupas sebagian hingga tampak lapisan batok, serabut dan dagingnya, bahkan ada juga yang digubah secara imajinatif, diolah menjadi sedikit surealistik.

Mengapa buah kelapa begitu menarik bagi seorang seniman, dan bahkan untuk kebanyakan budaya selalu dijadikan perlambangan yang positif ? Kita mungkin pernah mengenal simbol kepanduan atau Pramuka dengan lambang buah kelapa dan tunasnya. Dengan filosofinya yang begitu mendalam, orang-orang bijak bahkan mencontohkan kelapa sebagai totalitas dari kegunaan atau fungsinya yang berguna bagi banyak orang. Karena kelapa dari mulai akar hingga daunnya cukup berguna untuk umat manusia. Batang pohon kelapa yang bisa untuk tiang penyangga, atau pondasi bangunan dan jembatan.

Daun kelapa banyak digunakan untuk melindungi manusia dari terik matahari maupun hujan. Kita juga mengenal lidi dari tulang daun kelapa yang bisa digunakan menjadi sapu. Bagian yang mungkin banyak guna dan khasiatnya adalah buah kelapa. Dalam anatomi buah kelapa ada lapisan serabut, yang melapisi inti buah yang terlindungi oleh batok dimana di bagian dalamnya terdapat lapisan daging dan kemudian bagian inti yang berisi cairan.

Serabut buah kelapa dalam kehidupan masyarakat pedesaan di beberapa wilayah budaya di Indonesia masih sering digunakan. Teringat ketika jaman belum dibanjiri oleh produk industri, sabut kelapa sering digunakan sebagai alat untuk mencuci alat masak. Atau kita masih temukan keset kaki berbahan sabut dirumah-rumah. Para narapidana mengisi waktunya dengan pelatihan membuat barang-barang rumah tangga. Kerajinan keset sabut kelapa ini menariknya sering dipraktekan didalam lembaga pemasyarakatan.

Batok kelapa bisa dibakar dan dijadikan arang untuk memasak. Hasil masakan dari bakaran arang batok kelapa nyatanya memberikan efek aroma berbeda pada masakan tertentu. Daging kelapa muda dan airnya bisa menanggulangi rasa dahaga yang sangat dan banyak khasiat. Daging kelapa juga diparut untuk kemudian diperas dengan air menjadi santan untuk dimasukan kedalam berbagai masakan. Dalam budaya Minang dan daerah lain, santan merupakan elemen utama tiap masakannya, bahkan menambah kelezatannya. Rinaldi walaupun orang Minang tapi beberapa lama hidup di Jogjakarta, seperti juga orang Minang perantauan lainnya, ia masih kental dengan Ke-Minang-annya. Tapi ternyata lukisan-lukisan buah kelapanya tak ada hubungan langsung dengan identitas etnisnya. Buah kelapa baginya menjadi ketertarikan visual saja, yang ia temukan disekitar rumahnya di Jogja.

Melukis Buah-buahan dan Alam Benda

“ Dulu Mangga-Pisang-Jambu” dan sekarang Apel, Jeruk, Tomat, Bawang dan Kelapa. Itulah celoteh beberapa orang ketika melihat gejala praktik seni lukis di tanah air saat ini. Mungkin maksudnya ketika sebelum marak seperti sekarang, ketika seni lukis masih berpusar pada sanggar-sanggar , ketika lukisan dijadikan penghias dinding rumah, ketika jadi seniman berarti siap hidup seadanya, menggelandang, kita pernah mengenal lukisan alam-benda atau still life. Buah-buahan dimeja makan kerap menjadi obyek perhatian para pelukis, untuk diangkat sebagai kreasi diatas kanvas. Melukis alam – benda memang tradisi lama di bagian dunia barat. Mulai dari pelukis klasik seperti romantisme maupun impresionisme bahkan surrealisme pernah kembali menggambar alam benda.

Alih-alih bukan apa yang kita lihat dilukisan itu yang harus kita cermati, bukan hanya perubahan benda-benda maupun buah-buahan yang dihadirkan. Tapi memang dengan bagaimana cara melukis alam benda itulah kita bisa menelaah perubahan-perubahan jaman dan cara pandang para seniman. Cara melukis alam – benda Rudi Mantofani atau Handiwirman punya perbedaan paradigma cara pandang dunia dengan para pelukis dua puluh tahun lalu bahkan. Dulu tak umum orang punya kamera, perangkat komputer apalagi proyektor. Para seniman masa lampau mengandalkan pengamatan mata langsung dengan menata benda-benda yang ada disekitarnya, atau  melukis langsung dialam bebas.

Nah, ketika teknologi fotografi mulai berkembang dan digunakan oleh para pelukis untuk mencontoh model yang akan dilukis. Pertama mereka tentunya harus menguasai kamera, kemudian mereka harus memikirkan dan memilih obyek - obyek yang akan dipotretnya. Baru setelah selesai dicuci cetak, obyek itu dipindahkan ke atas kanvas. Ketika para pelukis fotorealisme di Amerika Serikat mencoba bereksperimen dengan hasil jepretan kamera dengan berbagai obyek pemandangan maupun benda-benda. Mereka memindahkan sketsa imaji foto-fotonya ke atas kanvas yang berukuran besar dengan rinci yang dibesarkan. Tentunya mereka memindahkannya dengan alat bantu yang lain, yaitu dengan slide proyektor. Sehingga proyeksi dari imaji itu bisa diperbesar hingga ukuran yang gigantis.

Kemudian mereka merekonstruksinya dengan keterampilan menggambar dan mencampurkan cat minyak untuk menciptakan ilusi obyek tersebut. Lukisan para seniman fotorealisme berukuran cukup besar, mereka melakukan itu untuk membedakan dengan bentukan fotografi. Perbesaran pada batas tertentu dahulu tak mungkin bisa dibuat, dikarenakan ukuran kertas foto pada saat itu. Begitupun dengan titik fokus , dengan cara melukis tersebut, mereka bisa memperlebar bahkan menghilangkan batas titik fokusnya. Dan sekarang ini, para pelukis lebih ditantang dengan adanya komputer dengan perangkat lunak untuk mengolah imaji dengan lebih rumit lagi, berlapis – lapis dan tanpa batas. Pengolahan imaji dengan dijital bisa membuat kreasi sebuah obyek sangat bergantung pada daya kreatifitas perupanya. Ukuran – ukuran imaji yang dihasilkan secara teknologi cetak sekarang tak lagi terbatas.

Ketakterbatasan pengolahan sebuah obyek pengamatan sangat mungkin dilakukan oleh banyak orang, karena perangkat lunak komputer punya kemampuan untuk menyediakan jutaan pilihan olahan imaji yang tersimpan dalam memori. Tetapi bagaimana ketika sebuah obyek pilihan itu diolah kembali dengan cara yang didasari tujuan artistik tertentu. Hal itulah yang menjadi pilihan dan tanggung jawab sang seniman. Ketika ia memindahkannya pada bidang kanvas untuk membuat sketsa, dan kemudian melukiskannya tentu keterampilan tangan yang konvensional tetap utama. Belum lagi kita bicara tentang alasan dan tujuan sang seniman melakukan itu, maka kita boleh bertanya mengenai suatu konsepsi. Ketika hasil sebuah lukisan tentang suatu obyek berpadu dengan apa yang ada dibalik konsepsi sang seniman, kita akan bisa mengambil suatu nilai artistik.

Tinjauan Kelapa Rinaldi

Kembali kita pada kekaryaan Rinaldi yang telah menciptakan lukisan dengan obyek-obyek buah kelapa yang diolah sedemikian rupa. Wujud kelapa yang ada dalam lukisan – lukisannya bermetamorfosa, mulai dari wujud yang sederhana berupa komposisi buah kelapa yang tua hingga kemudian berubah dengan dipreteli bagian perbagiannya, sehingga tampak bagian isinya. Tapi Rinaldi berusaha untuk tidak terjebak pada pendekatan sain yang terlalu linear, atau ia tidak dalam rangka menjelaskan lapisan-lapisannya secara berurutan. Buah Kelapa tersebut dibayangkannya sebagai suatu dunia yang berupa tanda-tanda visual serta yang mempunyai nilai budaya bagi pengamatannya, sebuah subject matter.

Buah kelapa yang terpotong – potong dihadirkan dengan melayang-layang, tercerai dengan teratur. Ia juga menghadirkan efek yang lebih dramatis ketika kelapa kopyor yang isinya terburai seperti mendesak meledak keluar dari batoknya. Daging kopyor yang putih menggulung bak awan atau asap yang menjulang dari sebuah letusan gunung berapi. Serabutnya terkoyak seakan tertebas golok, kelapa – kelapa itu menjadi karut – marut wujudnya. Ada serpihan yang tertinggal diujung tembok, ada yang melayang berjajar, ada yang ujung batoknya saja terbakar api menjadi bara. Tapi juga kemudian pengamatan kita sedikit agak terganggu dengan buah kelapa yang mengalirkan air susu ke dalam gelas yang mengkerut.

Bisa jadi pencarian artistik Rinaldi terhadap kelapa tak menentu arah, namun keliaran itu ia sendiri redam dengan menghadirkan pemandangan sureal dengan buah kelapanya. Kelapa dibayangkan menjadi bagian dari bentuk alam seperti sawah, danau, bukit, langit, atau menjelma jadi dunia hibrid yang antah berantah. Permainan silang tanda – tanda alam ini dalam sebuah rangkaian lukisannya menjadikan persoalan artistik baru yang ditawarkan pola pikir seniman dalam jaman dijital. Lalu kemudian kembali pada soal apakah Rinaldi menyadari tentang kelapa ini dalam suatu lingkup atau wacana yang lebih mengisi nilai lokalnya. Sebagai seorang berdarah Minang yang nilai budaya Kelapa begitu penting dalam kehidupannya. Adakah disana suatu ajakan permenungan akan nilai selain sisi permukaan ? Dimana warisan nenek moyang kekayaan alam nusantara terutama budaya kelapa sepertinya semaik tak terperhatikan.

Bagaimanapun lukisan adalah sebuah dunia yang tak harus berhubungan dengan soal kehidupan nyata. Lukisan adalah persoalan nilai dan budaya seni yang lebih abstrak, bahkan sebuah lukisan bisa berdialog dengan sendirinya dengan pengamatnya. Muncul berbagai penafsiran berbeda-beda dari tiap orang yang mengamati sebuah lukisan. Bahkan dari pernyataan orang mungkin hanya sederhana:  “ bagus!” , “jelek”, “kurang suka”dan seterusnya. Bagi orang yang tahu benar mengenai kelapa pasti bisa berceloteh dengan panjang. Dan nilai seni pun bisa lebih rumit lagi karena sebuah karya seni yang baik ditentukan oleh banyak hal dan banyak pihak.

Rinaldi telah mencoba menawarkan cara pandang tentang kelapa dan kecenderungan melukis yang berbeda dan mencerminkan semangat jamannya.

(Rifky Effendy, Kurator yang tinggal di Jakarta, juga bekerja sebagai anggota redaksi di majalah Visualarts)

 

On the Coconut

Why the Coconut?

The painter Rinaldi is known for his paintings of coconuts. He makes various photographic paintings of coconuts he then composes by digital manipulation and transfers them onto his canvas in a realistic way. Sometimes he makes repetitions, like continuously copying and pasting, to produce rhythms. Some certain parts of the fruit he will enlarge and make more obvious, while some others he will make into somewhat hazy backgrounds. Some coconuts are partially peeled to show parts of their shells, fiber and flesh while some others are presented imaginatively to the point of being somewhat surrealistic.

How come that the coconut interests an artist, and most cultures even take it as symbolizing positive things? Indonesians may think of the coconut seedling as the symbol of the Pramuka national organization of children and youth. In the Indonesian philosophical thinking, historical sages took the coconut as an example of total virtue. They idealized the usefulness of the coconut from its root through its leaves. Its trunk gives wood strong enough to make pillars or building foundations as well as bridges.

Coconut leaves are often used to shelter people from the heat of the sun and the rain. The bones of its leaves make brooms. The part that provides the most utilities is the flesh. Anatomically, the fruit has its fiber enclosing the central part that is covered by a shell, below which are the flesh and water.

Until today, rural people in certain cultural zones of Indonesia often make use of coconut fiber. In times prior to flooding industrial products, people would often use coconut fiber to cleanse kitchen utensils. Even today we can still find coconut fiber doormats in houses. Prisoners get training in making household articles. It is interesting that prisoners in Indonesian jailhouses are often made to produce doormats from coconut fiber.

Coconut shells can make charcoal for cooking. The coconut shell charcoal gives certain kinds of food specific aromas. The flesh and water of young coconuts quench extreme thirst while being rich with efficacy for various purposes. Grated, added with some water and squeezed, the flesh gives coconut milk as an ingredient of various dishes. In Minang culture centered in West Sumatra, as well as in other areas of Indonesia, coconut milk is the main ingredient of various dishes and it adds to their tastiness. Rinaldi comes from Minang; although he has been living in Jogjakarta for some time, he, like other Minang persons dispersed throughout the country, maintains his Minang ways. It turns out, however, that his paintings of coconuts do not have any direct connection with his ethnic identity. To him, in the setting of his neighborhood in Jogjakarta, the coconut provides a point of sheer visual interest.

Assorted Fruit and Still Life

“In the past, it was Mango-Banana-Guava but now it is Apple, Orange, Tomato, Garlic and Coconut”.  Such is the remark made by some people observing Indonesian painting today. Perhaps they mean to refer to the time, prior to the painting boom, when painting practices were evolving around art studios, when paintings decorated the walls of residential houses, when being an artist meant willingness to live a moderate, drifting life, and when still life painting was a familiar sight. Assorted fruit on a table often became the object of a painter’s attention to be represented on canvas. Landscapes and still life are indeed part of the painting tradition in the West. There were times when classical painting like romanticism and impressionism, even surrealism, took up still life.

What we should be attentive to is not only what appears on canvas and the changing objects or kinds of fruit represented. Rather, noticing the varying ways that still life has been represented in painting will give us the chance to look into the changing times as well as artists’ shifting outlooks. The way Rudi Mantofani, or Handiwirman, represents objects in his still-life paintings even implies a paradigmatic outlook different from that of two-decades-ago painters. In the past, cameras, let alone computers and projectors, were not common possessions. Artists of the past relied on direct viewing of objects around them that they arranged; alternatively, they did their painting outdoor, in an immediate contact with nature.

Photographic technology then began developing and painters used it to help ‘copy’ models they were going to paint. Firstly, they had to know how to use the camera and, next, they had to consider and select objects to take pictures of. Only after the processing did they ‘transfer’ images of the objects onto their canvas. Photorealism artists in the USA experimented with the results of the camera in capturing various landscapes and still life, objects. They transferred the sketches of photographic images, with details enlarged, onto wide canvas. Of course, such transfer required the help of another instrument that is the slide projector. That way, the projected image could be enlarged to gigantic sizes.

They would then reconstruct those images using their skills in drawing and mixing oil paint to create the illusions of the objects. Photorealist artists made large-scaled paintings in order to distinguish their works from photographs. The extent of image enlargement used to be limited those days. That way of painting also enabled artists to widen or even annul focal points in their works. Currently, with the availability of the computer and its various software, painters are challenged to work on images more sophistically, in multi-layered, limitless fashions. Thanks to digital processing of images, the creation of an object can be verily subjected to the artist’s creativity. The sizes of images that the current printing technology can afford are limitless.

It is now possible for many people to limitlessly process an object of observation thanks to the ability of computer software to offer millions of retrievable options of image processing. Now, what about the processing and re-processing of an object aimed at some specific artistic aspiration? At this point an artist’s sense and responsibility becomes the issue. When artists transfer photographic images onto their canvas for the sketching then painting, their conventional manual skills remain the prime issue. Moreover, touching on the reason and objective of such practice, we may ask the artists about their concepts. When a resulting painting of an object is integral to the background concept the artist has, we may infer some artistic value of the work.

Rinaldi’s Coconut

Let us return to Rinaldi’s paintings on the subject of the coconut out of some elaborate processing. In his paintings, the general form of coconut has metamorphosed; the on-canvas forms range from simple compositions of the mature and intact fruit through its ‘dismantled’ condition so one can see the inside. However, Rinaldi seems to have tried to keep away from a too linear ‘scientific’ approach in dealing with the subject; he doesn’t seem to have the intention to describe and explain its different layers orderly. He conceives the coconut as a world of visual signs and as something that contains a cultural value, thus as a subject matter.

Fragmented coconuts are represented as floating, orderly dispersed. He also offers strong dramatic effects in his work featuring the inside of soft-fleshed coconuts (known as kopyor) seemingly ready to burst out of its hard shell. Their fiber looks as if slashed by some sharp knife, making them appear shattered. Some pieces of them are left on the wall end; some others are floating in lines, while still some others catch fire on their shell edges. But then there is the somewhat distracting representation of a coconut that is pouring milk into a shrinking glass.

It could be that Rinaldi’s artistic exploration around the subject of coconut is simply whimsical, but he curbs the quality by offering surreal sights. He renders the coconut a part of natural forms or scenes such as rice fields, lakes, skies, or he transforms into some hybrid never-never land. These intercrossing natural signs in his serial work provide a new artistic issue that emerges from an artist’s patterns of thinking in the current digital era. This may then bring us to the question of whether or not Rinaldi realizes his coconut painting in a context or discourse that involves more of his local value – in fact, he belongs to the Minang ethnic group that assign so high a value on the coconut in their life. Is there implied in this artist’s works an invitation to reflect on (cultural) values in addition to the superficial aspects? This is in view of the fact that the heritage of natural riches all over the archipelago is more and more neglected.

Anyway, painting is a world that doesn’t necessarily have connection with real life issues. Painting concerns with the value and culture of art that is abstract; a painting can even, by itself, converse with its viewers. Different interpretations come up from different individuals viewing a given painting. One may just remark, “Cool!” “Sucks!” “Don’t quite like it”, and the like. But those with profound knowledge and rich references of the coconut can surely discuss this particular subject at length. A great deal of issues and many parties define the high or low quality of a work of art so that artistic value can indeed be delicate.

Rinaldi has tried to offer his way of perceiving the coconut and a distinct tendency in painting that reflects the spirit of the times.

(Rifky Effendy, a curator based in Jakarta, also works as an editor for Visualarts magazine)
 

 

Curator: RIFKY EFFENDY

 

busby seo challenge