Curatorial Notes

Curatorial Notes / From the Gallery / Participant / Photos


FINDING ME

12 Nov, 2011 - 26 Nov, 2011

FINDING ME
(his)Story of Lowbrow, Street art , and Animamix In Indonesia

Pameran FINDING ME ,  mengetengahkan soal praktek seni rupa kontemporer Indonesia ,dengan kecenderungan  komikal, kartun dan seni jalanan atau biasa disebut lowbrow. Trend ini – bila disebut sebuah gejala visual- menjadi fenomena yang menarik dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, terutama berhubungan dengan fenomena seni rupa kontemporer global. Nama-nama, seperti Eko Nugroho, Wedhar Riyadi, Radi Arwinda dan lainnya tentunya menjadi nama yang tak asing ; baik dalam pameran-pameran, art -fair , biennale hingga acara lelang. Kepopuleran gaya 'neo-pop' (kadang disebut pop-surrealisme) ini dimulai ketika beberapa perupa Jepang seperti tokohnya Takashi Murakami atau Yoshitomo Nara memukau publik seni kontemporer dunia dengan karya-karya yang menggunakan karakter dan unsur citraan komik Jepang : Manga dan Anime (animasi Jepang), di periode 1990-an. Selain juga di dorong dan ter-inspirasi oleh suatu fenomena, di era sebelumnya , terutama kemunculan gerakan Pop-Art di era 1960-an dan kemudian 1980-an, pernah muncul praktek seni jalanan (street art) yang diserap ke dalam wilayah 'fine art', seperti ikon seniman jalanan Jean-Michel Basquiat (1960 –1988), dari New York, AS, yang berhasil diangkat oleh art dealer menjadi “bintang baru”  seniman pasca Pop-Art.

Seni Rupa dari abad 21

Kemunculan istilah lowbrow art bermula di Los Angeles, California di dekade 1970-an , sebagai sebuah gerakan bawah tanah  dan akar rumput seni rupa yang berasal dari sub-kultur seperti juga musik punk, komik bawah tanah dan lainnya. Sering disebut dengan pop-surealisme. Hampir semua karya-karyanya sering memiliki rasa humor yang ceria, kadang-kadang nakal, dengan komentar-komentar yang sinis. Lowbrow dianggap karya seni kelas rendah dan lawan dari highbrow,  dimana sebagian praktisinya tidak mengenyam pendidikan resmi seni rupa. Karya -karya lowbrow sebagian besar adalah berbentuk lukisan, grafiti, mural, tetapi ada juga mainan (toys), seni digital, dan patung.

Diawali oleh beberapa seniman yang menguarkan apa yang kemudian dikenal sebagai seni kelas rendah (Lowbrow) adalah kartunis underground seperti Robert Williams dan Gary Panter. Karya-karya mereka dipamerkan di galeri alternatif di New York dan Los Angeles seperti Galeri Psychedelic Solution di Greenwich Village, New York yang dijalankan oleh Jacaeber Kastor, La Luz de Jesus yang dikelola oleh Billy Shire serta sebuah galeri di Hollywood , yang dikelola oleh John Pochna. Gerakan ini terus tumbuh pesat, dengan ratusan seniman yang mengikuti dan mengadopsi gaya ini. Karena jumlah praktisinya bertambah, kemudian muncul lagi sejumlah galeri yang juga ikut  memamerkan karya-karya penting. Robert Williams kemudian menerbitkan majalah Juxtapoz pada tahun 1994, majalah ini kemudian menjadi acuan utama yang memicu tumbuhnya   praktek seni ini lebih luas hingga ke Indonesia.

Sedangkan belakangan ini, istilah Seni Animamix muncul sebagai perkembangan lanjutan, dimana ketika unsur dunia animasi (anime), komik dan komputer game,  mulai diadaptasi kedalam bentuk-bentuk karya lukisan, patung dan urban toys. Istilah Animamix sendiri dimunculkan oleh kritikus dan kurator asal Taiwan, Victoria Lu yang mengemukakan suatu wacana dalam pameran “ Fiction@Love Ultra New Vision in Contemporary Art”, di MOCA-Taipei tahun 2004. Ia mengemukakan bahwa Animamix Art adalah suatu neo-estetik abad 21 yang muncul dan bisa ditemukan di seluruh ranah creative industri . Praktisi animamix adalah suatu generasi baru yang lahir ditengah keberlimpahan ikon visual, dimana bentuk estetik animamix telah menyerbu kehidupan sekarang. Lebih lanjut, Lu mengatakan bahwa Animamix Art tak hanya mengacu kepada animasi dan komik saja, tapi juga produk-produk industri mainan, grafis dan lainnya, yang banyak ditemukan disekeliling kehidupan kita.

Cara – cara berkesenian era animamix juga menarik dan banyak merubah bagaimana persepsi sebagai seorang perupa kontemporer. Pengaruh konsep dan strategi seperti perupa Takashi Murakami banyak diadopsi para perupa animamix saat ini. Ia sendiri mengadopsi cara Andy Warhol dalam memproduksi karya-karyanya, yang mendirikan “factory”. Murakami bahkan lebih jauh lagi melangkah dengan membuat perusahaan besar, seperti Walt Disney's, dimana memperkerjakan banyak perupa, perancang grafis bahkan ahli pemasaran mutakhir. Menghasilkan banyak produk, seperti t-shirt, benda-benda seperti boneka dari karakternya. Bahkan pernah bekerjasama dengan perancang tas terkemuka perancis, Louis Vuitton.

Hal ini menandakan bahwa seni kontemporer , khususnya para perupa animamix maupun lowbrow sangat cair dengan industri gaya hidup. Maple Yujie Lin, kritikus dan kurator Taiwan pada tahun 2009, mengemukakan, pada abad ini terjadi banyak persilangan dan percampuran standar estetika seni dengan dunia industri, dalam karya-karya seni rupa kontemporer animamix yang disebabkan oleh gaya hidup sub-kultur dan budaya konsumerisme, juga penolakannya :

Contemporary art is constantly reflecting the most representative imagination of the current generation, pushing it to its limit and exploring its boundaries. In contemporary art, the trend of Animamix (animation + comics) art is a breakthrough of aesthetic standards, for it captures the lifestyles of subcultures, blending the contradicting worlds of high art and popular culture, mainstream and subculture, and consumer culture and counter-culture. (Maple Yujie Lin , 2009)

Kelas Seni Rupa Bawah ke Atas

Booming pasar seni rupa kontemporer di Indonesia, dalam kurun tiga tahun terakhir seolah memberikan peluang bagi para praktisi seni jalanan untuk berpartisipasi dalam wilayah 'fine-art'  sebagai suatu alternatif pasar seni lukis atau komodifikasi lanjut perkembangan seni lukis. Muncul para perupa dengan semangat lowbrow, dari Yogyakarta, seperti karya-karya Wedhar Riyadi, Nano Warsono, Terra Bajhragosa, Uji 'Hahan' Handoko , dan lain sebagainya, menjadi fenomena yang khas dalam perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia. Tetapi khususnya dalam medan sosial seni rupa di Yogyakarta , publik tentunya masih ingat dengan kelompok Apotik Komik yang di era 1990-an, memelopori munculnya estetika semacam ini, dimana mereka : Samuel Indratma, Popok Triwahyudi, Bambang Toko, Arie Dyanto dan lainnya, aktif memperkenalkan praktek  seni publik seperti komik dan mural. Gerakan ini memengaruhi para perupa muda yang baru lulus dari seni lukis dan grafis ISI, beberapa otodidak.  Kemudian muncul indvidu serta kelompok , seperti Farhan Siki dan kelompok Daging Tumbuh, khususnya Eko Nugroho, yang banyak bereksperimen dan mengembangkan media komik alternatifnya dan sebagai aktivis mural kota.

Kurator Rain Rosidi mengemukakan bahwa di Jogjakarta gerakan seni urban dengan kesadaran lebih besar antara seni dengan persoalan urban kota, mulai digulirkan dalam proyek “Mural Sama – Sama” yang digagas Apotik Komik tahun 2002. Proyek ini disadari memberi pengaruh yang besar terhadap gerakan seni di Yogjakarta.  Terutama bagaimana membawa kesadaran perupa untuk melihat aspek ruang publik dan ketegangannya. Bisa dikatakan gaya seni seperti sering disebut Rain Rosidi, dengan istilah 'Jogja agro-pop' ,  mengacu kepada konteks kondisi kehidupan serta medan sosial seni rupa (di Yogyakarta), dimana berlebihnya produksi citraan atau images dari wilayah publik dan perkembangan mainstream seni rupa global, serta produksi industri kreatif populer seperti komik, kartun, animasi dan film, komputer game, grafiti, seni tatto dan sebagainya.

Alih – alih keberlimpahan ini menciptakan benturan-benturan dan ketegangan dengan kondisi sosial – ekonomi – budaya urban, dimana komunitas perupa hidup dan bekerja berdampingan. Sehingga menjadi sangat menarik bila kita memperhatikan ungkapan-ungkapan visual maupun teks – teks mereka. Mereka sangat sadar bahwa aspek visualisasi begitu penting sehingga unsur bentuk, warna , ikon dan karakter-karakter hingga teks-teks , diciptakan untuk menyolok mata, kadang sangat provokatif dan terbangun makna menjadi suatu wahana komunikasi yang khas. Representasi persoalan lokal-global sering muncul jelas dalam karya-karya mereka. Tetapi pada perkembangan pasca reformasi terjadi perubahan siknifikan, para perupa muda memandang keseharian mereka.

Farah Wardani dalam pengantar kurasi “ Freedom In Geekdom” di Galeri Nadi - Jakarta , tahun 2009, mengemukakan bahwa Kebudayaan anak muda sekarang seringkali dituding karena keterlalu-berbedaannya dengan apa yang disebut oleh generasi diatasnya sebagai realitas. Generasi yang rancu diantara sejumlah ambiguitas dan hibriditas, terutama dalam ranah seni rupa kontemporer, menghasilkan tendensi-tendensi untuk bergerak bukan sekedar ideologi dan pembuatan narasi – narasi besar, pilihan kreatif interdisipliner dalam menciptakan karya komunikasi visualnya sendiri; dan menyerap inspirasi dari narasi – narasi kecil dan kehidupan sehari-hari. Bagi Farah, itulah sisi ambiguitasnya yang sebenarnya merefleksikan proses perubahan generasi muda yang harus menerima kenyataan bahwa mereka lahir dan dibesarkan dalam beragam polaritas dan konfrontasi nilai yang multidimensional dan tak kenal lelah. Ketika mesin identitas politik yang ditanamkan model orde baru yang represif dijalankan.

Lowbrow dan bentuk seni jalanan dari awalnya adalah sebuah bentuk artikulasi perlawanan terhadap kekuasaan atau hegemoni . Maka pelaku seni ini dengan sadar  aksi artistiknya haruslah mempertimbangkan aspek “komunikasi visual”: yang memprovokasi, menarik perhatian dan diterima pesan-pesannya oleh publik luas. Pencarian-pencarian bahasa visual yang bisa mendekati publik sangat intensif,  kemudian memberikan jalan bagi munculnya alternatif estetika sebuah karya seni. Pintu terhadap kesadaran tersebut terbuka secara pemikiran pada akhir 1970-an dimana Gerakan Desember Hitam dan Gerakan Seni Rupa Baru muncul dengan jargon-jargon yang dimana memaksa dunia seni formal akademik untuk lebih sadar terhadap nilai kelokalan. Disini juga muncul kesadaran bahwa praktek seni rupa sebagai bentuk ' komunikasi ' bagi orang banyak. Mungkin terdengar seperti jargon seni realisme-sosial pada era perkembangan 1960-an-ketika muncul kecenderungan seni rupa abstraksi dalam dunia seni akademi -, tetapi pemikiran ini sedikit – banyak memberikan sumbangan kesadaran kepada para seniman untuk membuat karya yang bisa dipahami orang banyak. Beberapa senimanpun menggunakan elemen-elemen, simbol-simbol keseharian maupun seni tradisi dalam karya-karyanya.

Meresapnya kecenderungan kepada 'seni rupa bawah' atau estetika keseharian masyarakat, seperti unsur-unsur seni populer dan seni tradisional lokal juga telah banyak diadopsi oleh beberapa perupa pasca GSRB. Di Indonesia para perupa era 1980-an , terpengaruh oleh estetik dunia populer , tradisi atau seni rakyat 'bawah' . Seperti pada karya -karya Heri Dono dan EddiE HaRA sejak awal mengembangkan watak atau karakter – karakter dari pewayangan maupun sosok-sosok imajiner kartun, dengan permainan warna-warna kuat, pola-pola yang berani dan cenderung penuh humor dan sindiran. Menariknya semangat awal dari seni animamix maupun lowbrow juga banyak mengandung kritik terhadap persoalan sosial-politik dan budaya, tetapi dengan cara yang lebih santai, nakal, menyentil dan riang.

Latar belakang para praktisi seni lowbrow dan animamix saat ini lebih beragam secara latar belakang disiplin seni rupa. Seperti  Sanchia Hamidjaja dan Eunice Nuh (Pinkgirlgowild) dari Jakarta, banyak berkecimpung dalam perancangan grafis, ilustrasi dan industri periklanan. Sedangkan muncul juga para perupa yang aktif dalam  aktifitas sub-culture yang terlibat dalam pembuatan graffiti di ruang-ruang kota- Jakarta maupun pada acara-acara komunitas sub-kultur seperti halnya Darbotz. Dalam situs http://www.tembokbomber.com/, kita bisa cermati bagaimana komunitas-komunitas ini hadir dan memberikan nilai-nilai baru dalam budaya seni visual di perkotaan di Indonesia. Sangat lazim kemudian,  para praktisi seni low brow, animamix atau street artists menerapkan karakter-karakter artistiknya melalui benda-benda seperti, papan skateboard, t-shirt, poster, sampul CD dan lainnya.

Seni rupa di Tengah Perayaan Budaya Global

Gejala bagaimana perubahan di dalam medan sosial seni rupa menyerap aspek seni jalanan dan low brow ini dimulai sejak 2004. Rain Rosidi mencatat bahwa ada beberapa galeri yang berperan memelihara dinamika hubungan spirit kreativitas seni yang memuja ketidak-mapanan, dengan pasar seni yang mengharapkan ketertiban laku seni dan administrasinya, yang kemudian beberapa galeri sadar membangun dialog itu dengan menampilkan jejak-jejak proses kreatif dan eksperimentasi seniman dalam ruang galeri, walaupun kadang di galeri kita hanya melihat dari secuil kerja artistik para seniman ini. Tapi dari sana munculah para perupa abad 21 yang meramaikan pasar seni mainstream Indonesia.

Maka pameran FINDING ME ,  juga menjadi suatu penampang umum dan pencatatan penting, bagaimana perjalanan dan pencarian watak / karakter para perupa diwilayah silang estetik lowbrow,  animamix atau “agro – pop” dalam konteks perkembangan seni rupa Indonesia. Dengan pameran ini kita bisa mencermati karya dan meninjau bagaimana identitas visual dalam pemahaman yang lebih kompleks  dan  secara signifikan memberi nilai-nilai baru bagi pembentukan identitas baru dari silang – estetika yang tentunya mempunyai sejarah sendiri. Maka sekaligus kita bisa menjejaki dan menelaah bagaimana gerakan sub-kultur memengaruhi praktek seni rupa di Indonesia dan posisinya ditengah globalisasi.

EddiE HaRa
Sosok perupa EddiE HaRa, tentunya tak diragukan lagi, dia adalah perupa yang mengawali gaya low brow atau street art diatas kanvasnya, hingga bentuk “toys” atau karya tiga dimensionalnya. Dengan mengembangkan bentukan figuratif yang imajinatif  seperti kartun diatas kanvas-kanvasnya yang banyak menggunakan unsur belabar garis hitam, cipratan, pola-pola titik dan sebagainya. Terkesan liar dan kekanakan. Menerapkan warna-warna yang meriah, dan pola-pola yang atraktif yang memenuhi bidang kanvas dengan merata tanpa pusat perhatian. Kadang beberapa elemen tokohnya mengingatkan pada ikon – ikon kartun terkemuka. Karakter mahluk-mahluk yang hibrid:  seperti binatang seperti kucing, tikus, kelinci, ubur-ubur dengan tengkorak, bahkan tokoh wayang dan tokoh pahlawan komik dan benda-benda keseharian.

Walaupun tokoh-tokohnya bukan untuk menciptakan sebuah narasi yang khusus, namun wujud  tersebut selalu hadir walaupun ber-evolusi dalam beberapa rinci, yang menunjukan adanya pengaruh suatu konteks diluar dirinya. Sering juga ia memasukan unsur-unsur teks yang meletup – letup . Ia mengakui dengan canda, bahwa ia mengasosiasikan dirinya dalam posisi dimana munculnya sub-kultur punk era 1980-an yang anarkis dan liar. Tampilan dirinya pun menjadi khas, ber-anting, model rambut dan tatto ditubuhnya yang kadang mengambil beberapa elemen dari lukisan-lukisannya.  Namun dari karya-karyanya kita lebih banyak terhibur dan tergelitik dengan humor-humor absurdnya. EddiE HaRa atau biasa sering dipanggil sebagai “om legend”,  telah menjadi ikon bahkan memang lagenda hidup,  sebagai seniman Indonesia yang konsisten dengan watak lowbrow ini.

Heri Dono
Karya-karya lukisan, objek maupun instalasi Heri Dono, terjejaki dengan jelas pengaruh dunia pewayangan dan sekaligus dengan persoalan kehidupan sosial. Beberapa ikon ciptaan Heri mengacu pada sosok-sosok atau mahluk yang berasal dari mitologi lokal (budaya Jawa). Heri memang mengagumi dan pernah belajar mengenai wayang kulit melalui Sukasman, terutama dengan tokoh – tokoh punakawan. Para dewa yang menjelma sebagai orang-orang biasa yang berwatak jenaka ini dianggap sering memberikan nilai-nilai penting, menyindir , kritik dan bahkan perlawanan terhadap kesalahan suatu kekuasaan, dengan cara yang penuh humor. Heri kemudian memberi tempat yang khusus bagi tokoh-tokoh tersebut didalam karya-karyanya. Menjadikannya sebagai wujud dalam kecenderungan alegori yang terkait dengan persoalan realisme sosial – politik.

Kadang ia pun mencomot citra tokoh-tokoh kartun dari Barat , seperti Superman, Batman, dan sebagainya. Atau tokoh – tokoh sejarah dunia seperti Karl Marx dan sebagainya. Tidak dijadikan pusat, seperti pemuliaan tokoh pahlawan, tapi hanya sebagai sosok yang tampaknya lebih ingin  untuk ditertawakan. Menariknya Heri juga perupa yang melakukan eksperimentasi elemen -elemen material yang dipungut dari kelas rendahan , lowtech, mentah ke dalam karyanya. Dalam catatan Hendro Wiyanto tahun 2004, Heri Dono mempunyai pandangan bahwa tugas seni dan seniman adalah menjadi jembatan pengertian yang sebanyak-banyaknya agar seni menjadi bebas dan tertawa bersama manusia. Sedangkan bagi Aminudin T.H Siregar , karya-karya Heri Dono telah membuka peluang selebarnya bagi mereka yang ingin mencermati perpaduan antara estetika lokal yang selama ini dibungkam dengan estetika barat yang formalis. Maka Heri Dono melalui karya-karyanya menyumbangkan bagaimana hibridisasi estetika karya seni rupa kontemporer di Indonesia dan sekaligus memberi peluang pada karya-karya dengan kecenderungan lowbrow pada praktek seni rupa arus utama.

Bambang Toko Wicaksono
Bambang Toko adalah anggota dari kelompok Apotik Komik dan sangat aktif melakukan kegiatan artistik dengan berbagai kelompok lain di Jogja, kota lain hingga luar negeri. Selain berkarya iapun banyak menyelenggara berbagai pameran sebagai kurator maupun membantu organisasi seni lain. Bambang Toko sangat intens mencermati grafis : stiker-stiker dipinggir jalan ataupun tertempel di kendaraan umum ,  dibadan truk, sampul kaset serta seni populer lainnya atau seni kitsch. Sehingga karya-karyanya banyak mengangkat kembali citraan grafis tersebut , baik dalam bentuk lukisan maupun karya interaktifnya. Ia menjelajahi kemungkinan bahasa visual yang muncul karena ingatan kolektif pada citra yang akrab dengan masyarakat kelas bawah.

Di pungut dari ranah budaya kelas bawah , diangkat ke dalam arena seni rupa kontemporer dengan mengadopsi juga cara- cara produksinya. Seperti juga karya-karya Pop-Art Andy Warhol , banyak karya Bambang dihasilkan melalui proses produksi yang lazim dalam produksi grafis populer komersial. Ia pernah mengemukakan, bahwa karya lukisannya, tak harus ia buat sendiri, cukup mengirimkan dalam bentuk file dan kemudian dilukis atau melalui stensil ke atas kanvas oleh orang lain. Karena imej lukisannya, secara prinsip sangat mudah di lakukan oleh siapapun. Pola produksi karya seperti menjadi lazim terutama dilakukan oleh perupa animamix. 

Arie Dyanto
Publik seni rupa di Indonesia telah mengenal Ari Dyanto sebagai seniman yang aktif sejak akhir 1990-an, termasuk keterlibatan dia dalam kelompok Apotik Komik. Idiom yang digunakan Ari memang cukup luas. Tak hanya di atas kanvas atau kertas, tapi juga dengan mural, neon box, piringan hitam, t-shirt,  bahkan juga membuat modifikasi sepeda. Dwi Marianto, seorang penulis seni rupa, pernah mengemukakan bahwa seniman muda pada dekade 1990-an lebih bebas, lebih sopan, lebih asertif dalam mengungkapkan persepsi atau komentar mereka masing-masing tentang kehidupan dan lingkungan mereka.
Karya–karya Ari Dyanto merepresentasikan suatu kecenderungan terkini dalam perkembangan praktik seni rupa kontemporer di Indonesia. Menggambarkan bagaimana para perupa mengartikulasi diri dalam konteks seni jalanan (street art) , sub-kultur, gaya hidup anak muda, yang campur aduk, diracik ke atas sebuah kanvas. Grafiti, komik, kartun, ilustrasi, mural dan grafis stensil menyatu dalam penataan yang disusun sedemikian rupa, menjadi sebuah lukisan yang terelaborasi dalam makna dan kaya dengan penjelajahan artistik. Kita dengan jelas bisa kenali potret Ari di hampir seluruh karyanya, dengan gestur yang bergaya hip-hop. Mengenakan t-shirt, yang kadang berlapis sweater bertudung, kepalanya bertopi baseball, bersepeda, ia berpose seperti imej orang-orang dalam budaya hip-hop di New York atau L.A. Dengan coreng-moreng grafiti menghiasi tembok, dengan cat-spray khusus untuk para seniman grafiti berdampingan dengan lelehan–lelehan cat (driping).  Ditambah dengan tulisan-tulisan artistik yang bermakna walaupun hampir tak terbaca namun menarik untuk dipandang, seperti sebuah “kaligrafi jalanan”.

Farhan Siki
Farhan Siki dikenal kalangan publik seni rupa dengan karya muralnya dengan menggunakan tehnik stensil. Maka pada mural-muralnya seringkali ia menampilkan pengulangan bentuk-bentuk tertentu. Pengulangan ini menjadi salah satu strategi untuk menarik perhatian publik disekitar jalanan, dan sekaligus sebagai penanda utama subjek -matternya. Seperti munculnya logo merek global maupun ikon – ikon dan benda -benda. Kecenderungan grafis dan grafiti ia mulai sekitar tahun 1998. Ia mengakui bahwa dari jalananlah ia memulai ketertarikan dengan grafiti dan kemudian baru belajar melukis kepada seniman Jakarta, Hanafi sekitar tahun 2000-an.  Kemudian ia sering diundang oleh kelompok perupa mural seperti kelompok Apotik Komik di Jogja, maupun kelompok lain di Bandung. Menurut Bambang Toko, Farhan dalam aksinya selalu mengadakan pendekatan atau riset dengan mewawancarai penduduk sekitarnya. Sikap ini berbeda dengan para perupa grafiti yang beraksi secara ilegal.

Penguasaan medium cat semprot (spray) dalam membuat mural dan menggunakan stensil menjadi senjata utamanya. Ketika mencoba bidang kanvas, ia pun tetap menggunakan spray paint dan stensil sebagai medium dan teknik utama untuk membuat karyanya. Estetika perlawanan Farhan, terhadap persoalan budaya urban juga menjadi ciri yang menarik. Dengan penerapan warna-warna yang menyolok dan kontras, Farhan mencoba membangun kesadaran publik pada persoalan konsumerisme dan korporasi global yang tengah beroperasi dalam budaya masyarakat perkotaan.

Popok Triwahyudi
Karya-karya anggota Apotik Komik, Popok Triwahyudi sangat kental dengan karya-karya lukisan dan mural dengan kecenderungan enggambaran komikal dan ilustratif. Maka selalu narrative, atau selalu ada semacam panggung teater. Ada tokoh-tokoh dengan berbagai peran. Subyek – subyek karya Popok banyak berkaitan dengan situasi sosial – politik , terutama sejak gerakan – gerakan reformasi berlangsung. Hingga saat ini , karya-karya popok selalu menghadirkan fragmen seputar ketegangan – ketegangan, seperti perseteruan, kekerasan, ketidak-adilan, kekisruhan dan seterusnya. Popok mengemukakan bahwa karya-karyanya lahir dari opini dirinya tentang lingkungan dimana ia tinggal , berpikir dan berjalan dengan kebebasan disekitarnya. Sehingga karya-karya Popok merupakan bentuk kritisisme terhadap peristiwa-peristiwa sosial-politik pasca reformasi.

Kekhasan karya-karyanya adalah menggunakan kanvas berukuran besar, muncul sosok-sosok anonim dan tak dikenal dengan menggunakan simbol-simbol yang dikenali, seperti dari pakaian maupun atribut yang dikenakannya. Penerapan warna-warna  yang kuat, garis-garis outline yang keras. Unsur ini digabung dengan subyek-subyeknya sehingga karyanya menciptakan ironi – ironi yang tajam. Karya-karya Popok memiliki kualitas tersendiri dengan karakternya, sehingga ia bisa dikatakan salah satu

Darbotz
Darbotz adalah salah seorang pendiri tembok bomber yang merupakan komunitas terbesar street art dan grafiti di Indonesia. Anda bisa akses dan menemukan puluhan komunitas street art dan animamix disitus http://www.tembokbomber.com/.  Rain Rosidi mencatat bahwa nama Darbotz pertama kali  ditorehkan dijalanan pada saat ia masih duduk di SMU di Jakarta, tahun 1997. Apakah dipermukaan badan bus, tembok-tembok, termasuk juga tembok di sekolah musuhnya, baru setelah tahun 2004, Darbotz mengembangkan karakter visualnya sendiri yang bisa dikenali anonimus atau tanpa membubuhkan nama atau tanda-tangan pribadinya , baik itu grafiti maupun dalam drawing dan lukisan. Tidak seperti grafiti lainnya , iapun meninggalkan bentuk ungkapan dengan tipografi.  Ia menggunakan identitas visual melalui penggambaran bentuk mahluk seperti cumi-cumi dengan warna hitam-putih yang khas dan berbeda dengan seniman grafiti lain. Ia mengaku bahwa bentuk itu adalah sebuah alter – ego dirinya.

Dengan menggunakan bentuk dan warna yang sederhana, Darbotz mampu menandingi keriuhan warna-warni grafis jalanan di sekitar ibu kota-Jakarta dan dengan mudah mendapat perhatian komunitas street art maupun publik. Karena kekuatan karya-karya grafiti, Darbotz juga beberapa kali ditawarin bekerjasama dengan beberapa perusahaan global di Jakarta seperti produsen Nike, Google Chrome dan sebagainya. Selain membuat grafiti, drawing, dan lukisan, ia juga mengaplikasikan gambarnya melalui berbagai barang konsumsi anak muda seperti kaos dan lainnya. Sebagai strategi untuk mengampanyekan citra / brandingnya secara lebih luas lagi.  Darbotz banyak terpengaruh oleh gerakan sub-kultur , terutama hiphop 90-an seperti Wu Tang Clan (New York), Nigazz Wit Attitude (California).

Soni Irawan
Menurut catatan Alia Swastika, karya Soni Irawan mulai mendapat perhatian luas dari khayalak seni rupa ketika ia memenangi penghargaan Phillip Morris yang bergengsi melalui karyanya “Bangun dari Mimpi Buruk yang Indah” pada 2001. Belajar secara formal pada jurusan seni grafis di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, Soni Irawan pada akhirnya mengeksplorasi berbagai media, termasuk lukisan maupun instalasi. Hampir semua bisa dilihat kaitannya dengan musik, terutama karena Soni memang masih sangat aktif manggung bersama bandnya, Seek Six Sick, terutama di peristiwa-peristiwa musik indie di Yogyakarta. Tidak mengherankan jika secara bentuk dan gagasan estetik, karya-karya Soni menggemakan sesuatu tentang musik itu sendiri, jika tidak bisa dilihat lebih luas, tentang suara (sound).

Karya Soni memang selalu menghadirkan persoalan sosial dengan kaitan kehidupan personalnya. Dengan fragmen-fragmen dan elemen yang bertumpuk – tumpuk dan kadang menempelkan elemen bordiran. Menurut Rain Rosidi dan Bambang Toko, dalam karya Soni, figur-figur dan goresan liar yang diambil dari bentuk-bentuk komikal nan bebas memenuhi bidang kanvas. Pemakaian warna-warna primer seolah-olah hendak memberikan sebuah ironi, warna-warna yang terlihat cerah dan menyenangkan itu menyimpan sesuatu yang chaotic, riuh dan bising. Bagi Soni, melukis sebagaimana dalam bermain musik, adalah sebuah pesta. Maka, setelah melihat karya seni rupa ini, Anda akan melihat warna-warna kuning, biru, merah, hijau, dan warna-warna cerah lain dengan cara yang sangat berbeda.

Radi Arwinda
Seperti banyak perupa animamix sekarang, Radi Arwinda pun mengagumi perupa Jepang Takashi Murakami. Ia banyak membeli buku-buku hingga karya print Murakami. Mengadopsi strategi artistiknya terutama dalam menghasilkan produk terbatas. Karya-karya Radi sedikit-banyak terpengaruh oleh karya-karya Murakami, maupun anime dan manga lainnya. Walaupun Radi kemudian hanya mengambil semangat dari Murakami tapi terasa apropriasinya pada karya perupa fenomenal Jepang tersebut. Radi mungkin telah dikenal dengan karakter “Apet”, maupun “Ngepet”. Keduanya merupakan personifikasi dirinya dalam bentuk badan mahluk – mahluk mitologi lokal  seperti babi, monyet, naga, ular dan lain sebagainya. Namun pada seri lukisan Apet, mahluk itu berada ditengah kesenangan yang digambarkan berada disekitar tubuh gadis seksi. Radi mengawali gaya anime dan manga ini ketika ia masih tergabung dalam kelompok restart dari Bandung bersama Yogi Ginanjar, Rangga Dimitri, Tinton Satrio dan lainnya.

Radi sejauh ini dianggap berhasil memadukan citra tradisi Cirebonan melalui elemen mega mendung maupun penerapan beberapa pola motif  dengan semangat animamix. Pada serial Ngepet , Radi menghadirkan dirinya melalui hewan jadi-jadian yang gaib dalam mitos lokal. Sambil  mengritik cara pandang masyarakat sekarang dalam dunia material, Radi menghadirkan kembali citra Ngepet melalui rangkaian bentuk yang mutakhir, bahkan pernah ditampilkan melalui citraan cerita “Star Wars” atau seri instalasi “Sugih”. Penjelajahan Radi dalam menemukan identitas visual juga secara ekstensif diterapkan dalam bentuk karya tiga dimensional, seperti toys , patung kayu dan sofa. Dari penjelajahan artistiknya, Radi menemukan potensi sinkretisme budaya lokal sebagai landasan alternatif bagi seni rupa kontemporer.

Sanchia Hamidjaja
Sanchia Hamidjaja banyak terinspirasi komik Amerika seperti Peanuts (Schultz), Garfield (Jim Davis), Life in Hell (Matt Groening), Spy vs Spy (Anthony Prohias). Menurutnya, tokoh-tokoh yang mereka ciptakan berdasarkan binatang peliharaan, hubungan keluarga, dan didasari dengan keadaan sosial-politik di negaranya. Terutama Matt Groening yang sangat mempengaruhinya, karena baginya Groening mampu menampilkan persoalan ‘serius’ kedalam persoalan sosial-politik di Amerika, seperti potret disfungsi keluarga dengan visualisasi kartun yang  sederhana dan enteng. Sanchia menganggap Groening paling berhasil membuat tayangan situasi-komedi di Amerika yang klise seperti The Huxtables dan Married with Children, diangkat kedalam bentuk kartun komedi kelam yang sangat imajinatif dan tanpa batas. Selain komik experimental lainnya seperti Andy Konky Kru dan Bonom, yang banyak menggali elemen komik yang paling mendasar, sehingga ada kesadaran baru yang belum pernah ia dapatkan dari komik-komik konvensional.
Pada pameran tunggalnya, awal tahun ini yang diberi judul : Yin & Yang Dogs, Sanchia menciptakan karakter dua anjingnya : Ringo dan Kwamee, ke dalam drawing, lukisan, objek dan animasi. Bagi Sanchia itu caranya untuk mengkomunikasikan – secara visual – tentang kehidupan mereka, dan untuk berbagi pada banyak orang, selain juga bagi Sanchia seperti untuk mendedikasikan pada binatang peliharaannya. Dengan penjelajahan beragam idiom, ia banyak terpengaruh dari pekerjaannya saat ini, yakni mengerjakan proyek stop-motion, grafis dan juga proyek-proyek mural. Karya-karyanya mencerminkan bagaimana saat ini seni rupa bersilang dengan berbagai disiplin kreatif visual lainnya, seperti  komik dan kartun, dengan idiom seni lukis, drawing dan ilustrasi, mural dan street art, bentukan tiga dimensional seperti patung dan “urban-toys”, atau animasi, kadang bisa diaplikasikan ke dalam rancangan produk sepatu, t-shirts dan lain sebagainya. Subjek-subjek nya pun bersumber dari interaksi dengan lingkungan terdekat, baik dalam kehidupan sosial terdekat maupun ketika ia berada didalam komunitas sub-kultur.

Pinkgirlgowild aka Eunice Nuh
Karya-karya Eunice Nuh (alias Pinkgirlgowild) dikenal dengan kemunculan tokoh karakter anak burung yang diberi nama Piyiko. Gambar -gambar tersebut kadang dikombinasi dengan serangkaian elemen visual menyeruai sulur maupun pola-pola tertentu, sehingga pengungkapan seperti ini bersifat menyokong nuansa dari keseluruhan gambar. Terkadang juga muncul citra sosok manusia diantara sulur-sulur dan motif ciptaannya. Dengan menggunakan drawing atau lukisan bernuansa hitam-putih dan bentuk- bentuk tiga dimensional, serta garapan menggunakan belabar garis-garis hitam tegas,  namun teratur dan dinamis, menuju pola – pola organis yang didasari dari alam, maupun mahluk hidup dengan upaya stilasi, abstraksi; seperti dari daun, pohon dan helai bulu. Eunice menghadirkan sisi kehidupan yang lebih sederhana. Ia juga selalu mencoba melebarkan  idiom-idiomnya: patung, toys dan sesekali gambar digabung dengan elemen kertas hias industrial (seperti motif taplak piring kertas) atau lempengan kayu.

Dalam pengantar pameran tunggalnya , di Jakarta, ia mengemukakan : burung (bagi saya) menjadi idiom yang mewakili kerinduan terhadap hal-hal yang hilang, dan burung pada akhirnya menjadi sebuah lambang yang mewakili hal-hal hilang yang dirindukan tersebut. Burung ditampilkan merupakan sebuah bentuk keindahan tanpa wajah, untuk mewakili identitas yang hilang dan yang saya rindukan. Bagi saya pribadi burung merupakan lambang untuk mewakili kerinduan saya terhadap ketulusan, kejujuran, proses alamiah, kesederhanaan, dan harapan yang sekarang ini semakin sulit ditemukan, dimiliki, dan dihargai.

Wedhar Riyadi
Karya-karya Wedhar Riyadi sering memadukan unsur-unsur dunia absurd yang kelam dan lucu ,  terinspirasi oleh fiksi ilmiah, horor, kartun, musik, dan fashion dalam berbagai medium seperti drawing, mural, komik, ilustrasi, stiker, poster, papan skate dan objek tiga dimensi. Karakter karyanya muncul dari peristiwa – peristiwa benturan sosial dengan dunia imajinasinya. Dalam hal ini terutama kekerasan sosial yang terjadi dalam kehidupan sosial di Indonesia. Sedangkan sebagai perupa abad ini , yang tak lepas dari pengaruh-pengaruh yang disebabkan oleh keberlimpahan informasi. Benturan ini muncul dalam bentukanak-anak,  mahluk setengah manusia – setengah hewan, burung, mahluk yang bermata satu seperti mutan, yang bersamaan dengan benda-benda seperti pedang, batang-batang kayu ,paku,  pensil, dan lainnya.

Pada perkembangan terbaru, karya Wedhar menggambungkan antara citra fotografis dan karakter-karakternya, teks-teks yang merepresentasikan keprihatinan kepada situasi krusial. Menurut pendapat kurator Hendro Wiyanto, karya-karyanya mengartikulasikan suatu kritik terhadap bentuk-bentuk kekerasan yang gaduh melawan modernitas itu sendiri. Menurut Wedhar modernisasi bukan sesuatu yang harus ditolak secara ekstrim, tetapi adalah sebuah tantangan bagaimana kita bisa memanfaatkan, memilih, dan memilah sekaligus menguji keimanan seseorang diantara arus modernitas global yang semakin besar.

Terra Bajraghosa
Terra Bajraghosa dikenal juga dengan karakter yang diberi nama robotgoblok. Karya-karya Terra terbagi dalam dua kategori. Penggambaran perempuan sexy yang setengah robot atau cyborg, lainnya berupa gambar dengan cara pikselisasi. Tetapi keduanya berhubungan dengan persoalan budaya kontemporer. Dalam tulisan pengantar pameran oleh Hendro Wiyanto, mengemukakan bahwa citra cyborg itu merupakan sebuah parodi dan campursari tentang superhero dan robot. Robotgoblok, adalah robot yang diproduksi keliru, salah rakitan, dan produk gagal. Robot itu seperti tidak layak disebut “robot”, karena tak jelas bagaimana mereka bisa dikendalikan secara mekanis. Terra menjelaskan bahwa “ merayakan robot adalah robot yang patuh pada tuannya, dan karena itu kita menyebutnya robot pintar. Saya memilih robot goblok untuk menunjukan bahwa diri saya tidak untuk mengikuti perintah”. Karya cyborgnya berupa lukisan, kolase, drawing dan patung.

Sedangkan karya dengan citra pikselnya membawa kita pada kenyataan perkembangan teknologi media komunikasi dan informasi, dimana khusunya komputer telah menjadi konstruksi kehidupan budaya masyarakat abad 21. Piksel merupakan bahasa utama dan elemen yang menerjemahkan realita melalui teknologi komputer. Semua citra atau gambar berubah menjadi piksel. Alih-alih piksel adalah konstruksi dari bentuk representasi mutakhir, maka Terra menerjemahkan semua melalui bentuk piksel dengan skala yang diperbesar. Sehingga penyederhanaan ini cenderung menjadi abstraksi dari citraan nyata, bahkan diterapkan untuk upaya apropriasi lukisan – lukisan dan patung bersejarah. Misalnya lukisan Raden Saleh” Penangkapan Diponegoro”, atau Delacroix : "Liberty Lead The People", menjadi piksel dengan warna  dan bentuk yang lebih sederhana. Terra juga kadang melibatkan publik dengan karya instalasi yang interaktif. Mengundang mereka untuk membuat potret diri menjadi piksel. Bentuk piksel-piksel ini, menurut Nindityo Adipurnomo, seperti mengingatkan kepada citra  mainan Lego.

Iwan Effendi
Watak karya-karya Iwan Effendi sangat mendekati apa yang disebut pop-surealisme, seperti juga pada awal sebutan yang diberikan kepada perintis gerakan low-brow di Amerika. Ade Tanesia pernah mencatat kesannya terhadap karya – karya Iwan, bahwa karakter imajinatif  di tengah-tengah warna-warna cerah dari dunia antah berantah, yang menjadi bahasa visual Iwan Effendi. Sering kali kita menemukan tabrakan unsur-unsur visual dalam karya-karyanya, pesawat, tank, yang kadang-kadang tampak seperti cacat dalam bentuk hewan. Hal ini terkait erat dengan kesukaannya pada cerita perang, seperti epik Perang Dunia Kedua. Selama studi  di Departemen Seni Rupa Institut Pengajaran dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung, ia mengungkapkan ide-idenya dalam berbagai gestur tubuh manusia. Ketika dia pindah ke Yogyakarta, melanjutkan studinya di Institut Seni Indonesia jurusan seni lukis, gerakan visualnya yang telah bergeser dari realis ke imajinatif. Kembali ke genre  seni jalanan yang dipelopori oleh para seniornya mempengaruhi metode seninya.Gaya seni jalanan yang khas, bersinggungan dengan ikon lucu, adalah artefak yang memainkan peran penting dalam pengembangan bahasa seninya.

Iwan kemudian bertemu Maria Tri Sulistyani, penulis buku anak-anak yang kemudian menjadi istri nya, ia pun  mengembangkan visualisasi dari cerita anak-anak dari seluruh dunia. Tidak berhenti di situ, ia mengembangkan teater boneka Papermoon, yang sebelumnya diprakarsai oleh Maria. Bersama dengan istrinya, Iwan mulai mengeksplorasi media teater boneka. Untuk Iwan , perluasan idiom  ke dalam teater boneka adalah tantangan luar biasa yang tak berakhir. Menerima dan mengacu pada filosofi teater boneka membuat Iwan mengesampingkan egonya sebagai seorang seniman, dan menyerahkan diri ke dunia teater boneka. Namun ia berupaya tetap mengembangkan karya-karya pribadinya dengan punya kematangan lebih dalam memainkan tanda-tanda yang kadang muncul dengan ikon-ikon populer, fragmen-fragmen sureal, dengan memadukan unsur melukis realisme dengan karakter komik, dan dengan medium melukis dan drawing.

Uji “Hahan” Handoko
Nama Uji – Handoko atau Hahan muncul dari keterlibatannya dalam berbagai aktifitas sub-culture , terutama musik punk. Ia bersama temannya mendirikan grup Black Ribbon (tahun 2004), Punkasila (2005), dan Hengky Strawberry (2006). Bahkan grup musik Punkasila bersama beberapa temannya dan sempat beberapa kali diundang ke Australia bersama seniman Dianus Kesminas. Dalam beberapa acara pameran di Yogyakarta maupun Jakarta ia sering menghibur para tamu sebagai DJ. Karya-karya Uji-Hahan menarik, karena secara visual Hahan mengadaptasi penerapan grafis stensil. Khususnya ketika penumpukan warna dan gambar yang tampak bergeser, sehingga menimbulkan ketidak-nyamanan optis.

Dalam praktek seni jalanan ; mural atau graffiti , media stensil sering digunakan karena secara teknis lebih mudah dan cepat. Memang gambar yang dihasilkan kebanyakan sederhana ; baik secara bentuk maupun penerapan warna, tapi bisa rumit dan penuh warna seperti halnya karya Hahan. Khas karya Hahan adalah menghadirkan sosok-sosok manusia, mahluk, tapi dengan bentuknya yang absurd dan berwatak kartun , seringkali menyertakan tulisan-tulisan yang menyindir dengan balon seperti lazimnya komik. Karya-karya Hahan bervariasi secara medium; mulai dari lukisan kanvas maupun diatas kayu, objek, wall paper, bendera, diatas permukaan kulkas, tekstil sofa, keramik dan lain sebagainya. Penjelajahan medium maupun artistiknya mampu membaurkan gagasan seni stensil kedalam ranah seni tinggi (fine art).

Hendra “He-he” Harsono
Karya-karya Hendra Harsono atau dipanggil Hendra Hehe banyak menggambarkan mahluk atau monster yang aneh, seperti dalam film – film animasi saat ini. Dalam suasana menyenangkan tapi penuh ironi, warna-warna yang memikat dan halus. Sebuah tulisan di blognya menguraikan , bahwa objek utama yang kemudian dikelilingi oleh objek pendukung yang lebih kecil. Objek-objek pendukung bisa berupa teks, atau semata bidang-bidang yang kemudian diisi warna-warna terang. Objek-objeknya kebanyakan berupa mahluk serupa manusia, bertangan, berkaki, sering kali bermata lebih dari satu, bermulut ekstra lebar dan juga beberapa menggenakan topeng. Kumpulan figur yang sekarang lazim disebut dengan karakter itu, sesungguhnya tidak membentuk sebuah cerita yang utuh. Mereka sekedar dijejerkan, seperti kumpulan boneka di toko boneka. Kalau kemudian ada judul, yang seolah-olah mewakili sebuah kisah, itu tak lebih adalah “kesimpulan” yang terbentuk secara tidak sengaja.

Karya Hendra Hehe beragam, mulai lukisan, drawing, objek-objek  hingga diaplikasikan dalam bentuk T-Shirt, boneka, dan lainnya. Mungkin karena penemuan karakter-karakternya memang yang langsung memikat mata dan cocok diterapkan kedalam benda dan media lainnya. Ada kecenderung Hehe melihat segala persoalan disekitar dengan sederhana, sehingga justru hal itulah yang membuat karya-karyanya tetap menyenangkan, lucu dan segar. Walaupun ironi itu selalu  muncul dalam suatu rangkaian permainan.

'Herde'
Herde, adalah sosok imajiner/alterego dari Rangga Dimitri, salah satu anggota kelompok Re-start, bersama Radi Arwinda dan lainnya. Karya-karya lukisan Herde banyak mengadopsi komik-komik Eropa seperti Tintin karya Herge. Gagasan komik-strip ini kadang juga direpresentasikan oleh  kanvas-kanvasnya yang kadang menyertakan dua atau tiga kanvas. Bahkan dalam beberapa karya terakhir, ia juga menggarap bingkai-bingkai kayu untuk lukisannya, dengan ukiran khusus untuk menunjang lukisannya. Karyanya banyak menghadirkan kembali penggalan-penggalan atau fragmen komikal dalam karyanya. Baik itu diambil dari komik, lukisan maupun kejadian sehari-hari, ataupun persilangan diantara beberapa aspek tersebut.

Kecenderungan dilakukan 'Herde' menjadi karakter yang bisa dikatakan konsep yang tak lazim dalam konteks praktek seni kontemporer. Karena ia sebenarnya adalah menciptakan subyek lain yang melakukan kesenian. Tetapi hal ini dilakukan, sebagai suatu pencarian diri atau bisa diposisikan budaya - penyangkal derasnya budaya arus – utama populer dalam kehidupan sekarang. Citraan – citraan ini diadopsi untuk tujuan mengganggu kemapanan eksistensi karya/citra tersebut. Maka karya-karya sosok Herde menarik untuk dicermati dalam konteks budaya  global, sebagai suatu kritikan sekaligus penjelajahan artistik. Juga merepresentasikan suatu artikulasi hubungan masyarakat dengan budaya visual sekarang.

Rocka Radipa
Karya-karya Rocka Radipa, secara visual dan juga penggunaan mediumnya yang tak lazim. Menggunakan pelat kuningan dan tembaga, dengan penggunaan proses etsa (atau cetak dalam) untuk menghasilkan citra yang memancarkan kesan mewah, klasik, sekaligus nge-pop. Karya – karya Rocka banyak mengeksplorasi elemen-elemen semacam sulur, tumbuhan dan lidah api, yang kita sering temukan di motif-motif tenun atau batik. Kadang kita juga menemukan tanda-tanda atau simbol yang tampak seperti citra -citra ikonografi Eropa atau mengingatkan kita pada pola-pola gambar tato atau pola-pola dalam grafis – grafis yang biasa kita lihat diseputar musik rock tahun 1970-an.

Berangkat dari pengalaman merancang grafis dan observasinya, Rocka banyak menciptakan juga simbol-simbol baru dan merangkai pola-polanya menjadi sebuah permainan bentuk yang lebih bebas, dinamis dan memikat. Karya-karya Rocka dalam pameran tunggalnya berjudul” Playing Patterns “, menunjukan sikap perupa generasi muda dalam melihat budaya lokal dan global melalui suatu rangkaian pengamatan lingkungan terdekat, namun dengan melibatkan cara pandang kritisisme yang khas dan penjelajahan artistik yang lebih segar. Sehingga karya-karyanya tidak selesai pada persoalan visual saja,  tetapi juga dengan mencoba mengupas mitos atau nilai tradisi maupun modern, yang ada dalam kehidupan sekitarnya.

***

Sumber Pencarian situs:
1. http://universes-in-universe.org/eng/bien/animamix/2009_2010/concept. Diakses Juni 2011.
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Lowbrow_(art_movement). Diakses Juni 2011.
3. http://thedarbotz.com/about/. Diakses Agustus 2011
4. http://www.tembokbomber.com/. Diakses Agustus 2011
5. http://inkubatorasia.com/exhibition/the-yin-and-yang-dogs/. Diakses Juli, 2011.
6. http://www.popokberaksi.com/pop/index.php, Diakses juni 2011.
7. .archive.cemetiarthouse.com/en/exhibition/2009/power-to-the-pixel-and-to-the-artisan. Diakses September 2011.
8. http://www.galerisemarang.com/. Diakses Agustus 2011.
9. http://hendrahehe.com/. Diakses September 2011
10. http://senjaketawa.blogspot.com/search/label/EXHIBITION. Diakses September 2011
11. http://elieffendi.blogspot.com/. Diakses September 2011.
12. wedhar-riyadi.blogspot.com. Diakses September 2011.

Sumber Katalogus:
1. Daging & Pedang : Kegaduhan dinegeri yang Subur. Pameran Tunggal Wedhar Riyadhi. Ark Galerie. Jakarta. September 2011.
2. 294 cans/ 9999 brands/ @all items!. Pameran Tunggal Farhan Siki. Emmitan CA Gallery. Surabaya. 2011.
3. Jogja Agro Pop. Langgeng Gallery. 2009.

Curator: Rifky Effendy

 

busby seo challenge